Rabu, 21 November 2012

Secangkir Cinta Espresso

Aku tidak memesan espresso untuk pertama kalinya, walau pelayan mondar mandir dihadapanku. Aku ingin mejaku kosong, sama seperti isi hatiku saat ini. Biasanya aku selalu memesan kopi kesukaanmu, pelan – pelan akan aku hirup aromanya yang mengingatkanku padamu. Tak lama kemudian wajah manismu akan hadir disela – sela asap tipis yang menari diatas cangkir putih, dan senyum tipis itu akan melengkung indah bagaikan busur panah yang siap menghujam jantung hatiku, dan kamu selalu berhasil.

Sumpah, aku kangen kamu. Kamu ada dimana? Apa sedang berusaha menggapai mimpimu, hingga tak sempat memberi kabar padaku? Atau sibuk dengan cowok lain sehingga lupa padaku? Kamu memang kejam tapi apa daya, aku masih dan selalu kangen kamu. Aku tahu kamu masih disana dan akan selalu ada diotakku, mengganggu konsentrasiku ketika belajar, menyebrang jalan bahkan ketika berdoa. Kamu memang nakal, tapi aku suka kamu, aku nggak pernah punya niat melupakanmu.
Aku sebenarnya nggak suka kopi, tapi kamu selalu bilang kalau kopi adalah candumu, teman kalau harus belajar sampai larut malam ketika musim ujian tiba. Aku ingin menjadi candumu. Sayang keinginanku itu tak terkabul. Buktinya kamu mulai melupakanku. Dimana sih kamu manis? Jangan suka bermain rahasia – rahasiaan denganku please, aku nggak betah merangkai puzzle. Dengan cara apa aku harus membuktikan kalau aku menyayangimu? Apa butuh sebuah surat resmi dari kelurahan? Atau kalau perlu aku akan pergi ke notaris sekarang, untuk mematenkan hatiku hanya milikmu seorang. Mungkin terdengar gombal, tapi percayalah manis, aku tidak pandai mengumbar kata – kata.
Di café ini  setahun yang lalu, apa kamu masih ingat, saat itu kita berdua duduk disudut mencari sepi. Hari ulang tahunku, kamu memberi kejutan kecil yang paling manis yang pernah aku dapatkan. Kamu mengeluarkan sebuah kue kukus yang kamu beli di pasar nitip pembantu ketika dia belanja. Aku tertawa, kamu marah, jujur aku ketawa bukan karena kue kukus yang berwarna hijau itu, tapi karena idemu yang lucu. Setelah aku membujukmu, sebuah busur indah itu kembali melengkung diwajahmu.
Sederhana, itu tema ulang tahunku saat itu, kamu yang memilih. Katamu kita lebih mengingat hal – hal yang sederhana ketimbang sesuatu yang extravaganza. Memangnya kamu tahu apa artia extravaganza, tanyaku saat itu, kamu jawab dengan senyuman yang diikuti dengan gelengan pelan. Kita tertawa, keberadaanmu saat ini adalah kesederhanaan yang extravaganza bagiku. Semua terasa lengkap, perhatianmu, senyummu, kue kukus hijau dan sebatang lilin yang siap aku tiup, huffpp. Make a wish donk, katamu. Jujur aku bingung harus mau minta apa, karena yang aku inginkan hanyalah kehadiranmu disisiku, dan itu sudah terkabul. Tapi saat ini aku menyesal, kenapa dulu aku tidak berdoa untuk kehadiranmu selalu ada untukku, hari itu dan selamanya, tapi aku tidak bisa mengembalikan waktu.
Oh, sayang, seandainya kamu ada disini, pasti akan aku peluk selamanya dan tak akan pernah kulepas lagi. Biar saja orang mau berkata apa, mereka juga nggak mengerti bagaimana perasaan hatiku terhadapmu. Dengan langkah pelan aku mulai beranjak dari singgasana kita, setahun yang lalu dan semua masih tampak seperti kemarin. Bayangmu seolah - olah tak mau pergi dari mataku, selalu menggoda genit sanubariku.
Hari ini cuaca masih berduka, hujan, sama seperti perasaanku. Awan hitam gelap dengan kilatan petir yang sesekali menyapa langit, menambah kelam sore menjelang malam. Aku membuka payung dengan perlahan, ah, untuk apa? Aku mengurungkan niatku, aku mau bermandikan hujan. Mana tahu dengan guyuran air hujan aku bisa melupakan dirimu, walau aku rasa itu mission imposible, tapi patut dicoba. Orang yang dilanda rasa rindu kadang sukar dimengerti, aku bahkan susah mengerti apa mauku saat ini.
Setahun yang lalu semua begitu indah, semua terasa begitu sempurna. Tapi mendadak kebahagiaan itu ditarik dari kehidupanku? Yah, sejak kau tak pernah bisa aku hubungi, hari – hariku mendung. Terakhir kali aku mengingat senyum itu, ketika aku mengantarmu sampai ke rumah. Terima kasih yah, kataku saat itu. Kamu hanya tersenyum. Besok kita jalan lagi? Tanyaku berharap. Kamu hanya mengangguk. Walau anggukanmu pelan tapi efeknya dahsyat memenuhi rongga hatiku, hangat. Aku tahu masih ada kamu esok hari ketika aku memulai hari. Masih ada kamu yang akan tersenyum ketika aku membutuhkan keceriaan. Masih ada kamu yang akan menemaniku melakukan hal – hal yang konyol. Mencari sudut dunia untuk kita diami dan berbagi kesunyian dengan canda kita yang mungkin tak dipahami orang lain.
Kenapa aku harus mengingat dia lagi yah, untuk apa coba? Tapi mau dilupakan juga susah, ya sudah lah, let it flow. Aku mencoba mengalihkan pandanganku, kulihat jendela café yang baru saja aku tinggalkan, aku mengucek kedua mataku, ada kamu disana, sayangku, mentari bagi gelap hariku. Aku perlahan mendekat, membenarkan penglihatanku yang kabur karena terpaan hujan. Itu memang kamu, tapi senyum itu tidak ada disana, ah, untuk apa aku peduli. Selama ini juga kamu tidak pernah mempedulikan aku. Tapi mengapa aku tidak melihatmu berlalu tadi? Apa ketika aku sibuk perang dengan perasaanku? Tak penting untuk dibahas, yang pasti aku masih rindu dan akan selalu rindu. Dan menatap wajahmu saat ini adalah kebahagiaan bagiku.
Kamu tak melihat kearahku, walau aku sedang memperhatikan wajahmu. Kamu hanya terdiam memperhatikan sebuah foto dan sibuk menghapus airmata. Apa yang kamu tangisi sayang? Aku penasaran. Tiba – tiba saja wajahku pucat dan hatiku panas tak karuan. Foto yang sedang kamu perhatikan hingga tak merasakan kehadiranku adalah foto kita berdua. Official photo setelah dia mau jadi pacarku. Ternyata kamu masih mengingatku dan pastinya mengingat cinta kita. Aku tak mau kehilanganmu lagi.
Aku berlari untuk masuk agar menemuinya. Aku akan menjadi kejutan kecil bagimu. Kali ini tidak akan ada kata berpisah. Aku pastikan itu sayang, yang ada hanya masa depan aku dan kamu. Hanya ada cerita kita berdua. Babak baru bagi awal drama cinta kita, lupakan yang lalu, saling berpelukan dan berdamai. Ah, aku mulai membayangkan indahnya hari esok.
Tapi siapa pria itu? Yang membawakan kamu secangkir espresso panas. Apakah dia pria spesial yang baru, yang telah mengganti kedudukanku dihatimu? Candu barumu? Pria yang membuat senyum itu kembali melengkung? Aku marah, kali ini benar – benar marah. Untuk apa kamu membawa foto itu kalau kamu ternyata bersama pria lain. Kamu memang tidak pernah menghargaiku, bahkan ketika aku tidak berada disampingmu. Lebih baik aku pergi dan menghilang, ya aku akan menghilang selamanya untukmu. Aku akan berlalu, biar saja larut dalam derasnya hujan dan gelapnya malam.
Pengunjung café terkejut melihat pintu tiba - tiba terbanting kuat, dua lonceng kecil yang ada disudut pintu berbunyi tak beraturan. Seorang pelayan memastikan pintu tertutup dengan rapat. Angin memang membuat semua yang kuat terlihat lemah. 
Andi menatap wajah Irma dengan penuh perhatian.
“Jadi disini kamu sering menghabiskan waktu bersama Iwan setahun yang lalu sampai berjam – jam?”
“Ya Ndi, biasanya kami hanya diam, tertawa, ngobrolin hal – hal yang sepele. Yang penting temanya harus selalu bersama.”
Irma menjawab sambil sesekali menghapus airmatanya, melihat foto itu kembali dan menghela nafas, menguatkan dirinya.
“Kamu kangen sama Iwan?”
Irma menjawab pertanyaan Andi dengan tangisan, “Seandainya kami tidak menerobos hujan malam itu. Seandainya kami lebih lama duduk disini.”
“Sudahlah Ma, penyesalan itu nggak akan bisa memutar waktu kembali. Nggak akan bisa membuat Iwan hidup kembali.”
Irma mengangguk pelan. Kemudian Andi menggenggam tangan Irma dan mengambil tissue mengeringkan wajah Irma yang basah akibat tangisnya. Irma tersenyum.
“Bagaimana Ma, kursi rodanya sudah nyaman?”

Minggu, 29 Januari 2012

Cinta Khianat



Aku memandang kagum ke arah pria yang sedang terburu – buru itu. Selalu begitu, tubuh indah itu seperti sudah terprogram untuk mengenakan pakaian dengan cepat, tak ada satu kancing pun yang terlewatkan, kembali rapi seperti semula, bahkan tanpa perlu melihat. Kemudian dia akan sigap membuka pintu kamar, berlari kecil menuju pintu depan apartemen, berjalan cepat menuju lift yang akan mengantarnya ke area parkir di lantai basement dan menghilang dengan mobil sedan merahnya.
Aku terbaring kelelahan, kami baru saja bercinta.
Kadang aku butuh ucapan selamat tinggal, ciuman perpisahan atau setidaknya senyuman di akhir permainan hasrat kami. Atau melihat ke arahku saja, cukup. Tapi itu tidak pernah terjadi. Kesal, aku bukan pelacur yang bisa ditinggal seenaknya. Hanya saja aku tidak pernah mendapatkan tips atas pelayananku sebelumnya.
Sesal tersebut biasanya akan berakhir ketika asap rokok keluar dari bibir, makan apa saja yang ada di kulkas dan terlelap, letih ketiduran. Tetapi akhirnya aku akan marah sedetik bangun dari tidurku. Berjanji tak akan mengulanginya lagi, bertekad kuat akan menjauhinya. Tapi nafsu tak mengenal sumpah, aku masih tetap merindukan peluknya, menyesap aroma tubuhnya. Konyol.
Kevin adalah teman satu kantorku. Pada awalnya aku mengakrabkan diri karena Kevin adalah tipeku, aku menyukai garis wajahnya yang tegas dan senyumnya yang ramah. Mendengarkannya ocehannya sampai telingaku tuli bukanlah hal yang membosankan. Kevin sempurna dimataku.
Bermula dari pergi beramai - ramai ke karaoke dipenghujung minggu. Saling berbagi cerita basi di Café sembari berlomba – lomba menciptakan asap rokok tebal yang menutupi seluruh ruangan seperti kabut dipagi hari. Semua itu candu bagiku. Ketagihan untuk selalu berada didekatnya, mengagumi keindahannya diam - diam, aku memang ahli kalau sudah menyangkut hal – hal bodoh seperti itu.
Akhirnya kami menjadi dekat tapi tidak terlalu akrab. Jarang membicarakan hal yang sifatnya terlalu pribadi. Bukankah pria selalu begitu? Kevin sedikit pendiam bila baru mengenal orang, tetapi apabila sudah kenal satu jam saja, dia selalu mencoba untuk menjadi pusat perhatian, autis dan narsis. Kevin akan tertawa terbahak – bahak walau kadang menurutku ceritanya tidak lucu. Tetapi bukan Kevin Syahreza namanya kalau tidak selalu berusaha menyenangkan orang lain, idealis dan sedikit arogan menurutku.
Sampai ketika malam itu, Kevin mengatakan bahwa dia mau menginap di apartemenku. Istri dan anaknya sedang berada di rumah mertuanya. Kevin selalu menghindar kalau istrinya mau mengunjungi orang tuanya. Aku tahu alasannya walau dia tak pernah mengatakannya kepadaku. Kevin tidak bisa berbaur dengan keluarga istrinya yang sangat kaya. Dia lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Tidak terbiasa dengan hal – hal yang bersifat resmi. Tapi Kevin sangat mencintai istrinya, mereka bertemu karena belajar di universitas yang sama. Bahkan aku dengar dari beberapa teman kerja, Kevin bisa mendapatkan jabatan yang lumayan bagus di perusahaan kami karena jasa mertuanya.
Kevin memang sangat beruntung menikahi istrinya. Aku sempat beberapa kali bertemu, wanita yang tidak terlalu cantik tetapi modis dan sangat ramah. Mencoba selalu memberikan senyum hangat pada setiap sapaannya, dan selalu berusaha untuk bisa berbaur dengan kami. Tipikal wanita yang terlahir dari keluarga kaya tujuh turunan. Kebanyakan sahabat wanitaku seperti istri Kevin. Aku dengan mudah menyukainya.
Kami berdua memasuki apartemenku seusai pulang dari karaoke. Akhir minggu yang menyenangkan. Setiap kali Kevin berkunjung ke apartemenku, dia selalu saja berkata bahwa hidupku sok borjuis, kaum yang sangat mengagungkan privacy. Katanya lagi, dia masih butuh tetangga agar tetap menyadari kalau dia adalah manusia, makhluk sosial yang butuh kebersamaan. Kevin dengan segala keangkuhannya lupa bahwa istrinya juga sama seperti aku keadaannya.
Aku selalu memaksakan diri untuk tersenyum setiap kali mendengar ceramahnya. Tak perlu dibantah, dia akan semakin menjadi – jadi kalau aku berani beradu argumen. Kevin akan menginap, aku terlalu lelah untuk harus bersandiwara mendengarkan ocehannya semalaman dengan penuh minat. Diam adalah emas, temaku malam ini.
Tapi belakangan aku menyadari, bahwa dia sangat diuntungkan dengan keadaan gaya hidupku ini, lingkungan yang tak mau ambil peduli apa yang dilakukan orang lain. Setidaknya dia tetap bisa menjaga rahasia itu, aku dan hasratnya.
“Kev, aku tidur dulu yah, capek.”
Aku pura – pura menguap didepannya walaupun masih bingung kenapa Kevin menginap di apartemenku malam ini dan bukan kembali saja kerumahnya.
Kevin tak menjawab, dia masih betah memandang ke arah luar apartemen melalui kaca besar disudut ruang tamu. Diam dan tidak bergerak sedikitpun seperti ada sesuatu dibenaknya.
“Ternyata melihat kota dimalam hari dari lantai dua puluh lima apartemenmu sangat menyenangkan yah. Bumi terasa damai, semuanya terlihat jujur”, ujar Kevin sambil tersenyum lalu memandang ke arahku.
Gawat, aku harus buru – buru masuk kamar, aku tidak mau merusak teori jendela malamnya dengan senyum palsu lainnya. Aku harus menghindar dari diskusi yang aku tahu bakal tak ada akhirnya kalau diladeni.
“Nanti kalau mau tidur langsung saja masuk ke kamar ya. Nggak aku kunci”
“Thanks”
Kevin melanjutkan renungannya, kembali melihat dengan tatapan kosong keluar jendela. Aneh, apa yang sedang dia pikirkan? Ah, bodoh amat, aku sudah lelah, biar saja Kevin semalaman disana, toh aku beruntung, dia tidak akan mengganggu tidurku dengan celotehannya.
Sebenarnya aku belum begitu mengantuk, aku masih ingin memandang wajahnya, memperhatikan tubuhnya yang gagah. Tapi aku sudah memutuskan untuk tidur cepat, aku menenggak obat tidur, takut salah tingkah, melakukan hal yang tidak – tidak nantinya. Godaan membuat Kevin terlihat begitu menggiurkan dipelupuk mata. Dan aku tidak mau mataku menjadi lebam, hitam, karena ditinju Kevin.
Sialnya atau lebih tepat keberuntungan? Aku hanya memiliki satu kamar saja dan dia bilang kalau dia tidak mau tidur di sofa. Sama – sama lelaki, kenapa harus sungkan tidur satu ranjang, pidatonya. Aku menghela nafas, terserah, malam ini bakal menjadi malam yang buruk seumur hidupku. Ibarat anak kecil, aku sedang berada di sebuah toko coklat, susah untuk tidak berusaha mencicipi. Seandainya Kevin tahu beban yang akan kulalui malam ini. Jika saja kamu tidak tampan Kevin.
Aku buru – buru masuk kamar.
Kurebahkan tubuhku diatas kasur yang aku rindukan dari tadi, nyaman dan hangat. Siap memejamkan mataku. Tiba – tiba pintu kamar terbuka, Kevin masuk. Aku mengubah posisi tidurku, harus membelakangi Kevin. Aku harus kuat, aku harus bisa, aku berusaha membuang pikiran kotor itu.
“Selamat malam Kevin”
“Selamat malam juga”
Kevin benar, malam ini sangat damai, tidurku pasti nyenyak, apa mungkin karena ada Kevin disebelahku. Eits, setan sudah memulai misinya, otakku seperti ditaburi berjuta confetti berwana – warni. Dan aku harus menghentikannya dengan memikirkan hal lain. Hm, mungkin memikirkan cerita hantu akan menolong. Benar saja, pikiranku mulai teralihkan dan mencoba untuk tidur. Ajaib, obat tidur sialan itu tidak bekerja semestinya, aku masih segar bugar.
 Tapi tidak lama kemudian, aku merasa ada yang memelukku. Apakah aku salah minum obat? Aku mau tidur dan bukannya berhalusinasi. Tapi pelukan itu semakin kuat, Kevin kah yang melakukannya? Tapi tidak mungkin. Ada sedikit rasa takut di dalam hatiku, apakah yang masuk ke kamar tadi hantu dan sekarang sedang kuat memeluk Aku benar – benar ketakutan, bulu tanganku bediri, aku merinding, seharusnya aku memikirkan Brad Pitt saja tadi, sial.
Aku membuka lebar – lebar mataku tapi tidak berani bereaksi. Aku melihat tangan yang sedang diam melingkar di pinggang. Bentuknya sama dengan tangan manusia, aku memberanikan diri untuk  membalikkan tubuh dan memastikan apa benar yang sedang aku takutkan. Dan Kevin mencium bibirku.
Malam itu kami melakukannya tanpa suara, tidak perlu ada penjelasan atau alasan mengapa dan kenapa, juga bukan pilihan benar atau salah. Apa yang kami lakukan bukan ujian akhir sekolah, tidak ada pilihan, aku ikuti saja apa kemauan Kevin. Semuanya berjalan tanpa ada komando saat nafsu yang berbicara. Ingin rasanya berteriak kegirangan tapi mendadak ingat temaku malam ini.
Keesokan paginya aku tidak melihat Kevin, dia sudah pulang. Aku jadi merasa bersalah, mungkin saja Kevin khilaf melakukan itu. Seandainya aku menghentikan segalanya tadi malam, Kevin sudah tahu aku gay, walau aku tidak pernah membicarakannya, tapi pasti dia sudah dengar dari hembusan gosip yang berseliweran di kantor. Rasa bersalah itu kini sudah naik tingkat, merasa berdosa.
Kevin adalah sahabatku, aku sudah berjanji kepada diriku sendiri tidak mau merusaknya dengan kebodohanku, hal yang sangat sering aku lakukan. Pria yang sudah berkeluarga dan tidak gay bukanlah untukku. Kevin tentu saja masuk dalam daftar tidak untukku itu. Dia ada karena dia menganggap aku adalah sahabat terbaiknya. Dan resmi aku telah menghancurkan sebuah persahabatan.
Perlahan – lahan aku mulai membaik dari rasa sedihku. Aku membesarkan hatiku bahwa aku tidak pernah memulai, walau aku bisa menghentikan tapi tetap aku tidak memintanya. Aku tidak berani menelpon atau mengirim pesan singkat ke telpon selulernya, diamkan saja dulu, aku masih belum sanggup mendengar amarahnya, masih sangat menyayanginya. Terkadang mendengarkan kata – kata kasar dari orang yang kita sayang, efek sampingnya mampu bertahan berbulan – bulan, dan aku belum siap patah hati.
Dua hari sesudah malam itu, tepatnya Senin pagi, aku tidak melihat Kevin. Jantungku berdegup kencang, aku lemas. Kevin pasti masih marah dan tidak mau bertemu denganku. Aku mendadak merasa kehilangan segalanya, aku terduduk lemas diatas kursi kerjaku.
“Hai, koq kamu kelihatan pucat? Sudah sarapan belum?”
Oh Tuhan, Kevin mendatangiku, masih ramah, seperti tidak ada kejadian apapun sebelumnya. Kevin masih tetap sama, setidaknya masih mau berbicara kepadaku.
“Halah, malah diam kayak patung gajah. Nih aku bawain sarapan.”
Kevin memberikan bungkusan nasi lemak dari rumah makan kecil favoritnya.
“Thanks yah Kev.”
Ah, kami masih masih bersahabat, Kevin masih mau berbicara denganku. Aku tidak mau memikirkan lagi kejadian dua hari yang lalu, ternyata kami baik – baik saja.
Tidak perlu diagendakan, aku dan Kevin semakin sering melakukannya, menjadi rutinitas yang wajib dilaksanakan tetapi haram untuk dibahas. Kevin yang selalu memulai, walau terkadang tidak aku pungkiri sering menggodanya. Mengajaknya makan malam, menunjukkan koleksi DVD terbaruku, mencoba game terbaru, harus ada alasan. Dan semuanya harus diapartemenku. Karena ini rahasia.
Tapi setahun waktu berjalan, aku mulai jenuh tepatnya aku mulai menuntut lebih. Cerita menjadi berbeda ketika ada hati di dalamnya. Keintiman sesaat tetapi berulang membuatku bertambah cinta kepada Kevin. Cinta akan wajah tampannya, rindu akan ciuman mesranya, memimpikan pelukan hangatnya dan tertawa kecil melihat keterburu – buruannya. Tidak pernah mengutarakan keinginanku kepada Kevin, aku menunggu sampai bosan.
Namun, tak bisa mendustai hati kecilku yang telah melakukan dosa besar. Kami telah mengkhianati istri Kevin. Selingkuh, walau aku terkadang ragu apakah percintaan kami bisa disebut selingkuh. Rahasia itu membunuhku.
Kevin mulai merasakan perbedaan itu, aku tidak mau lagi berlama – lama melakukan cinta khianat itu. Mencari – cari alasan untuk menolak kunjungannya ke apartemenku.dan mulai menjauhi segala hal yang ada Kevin di dalamnya. Aku tidak mau lebih bodoh daripada keledai.
Tapi bukan Kevin namanya kalau dia menyerah begitu saja. Sering ketika aku pulang, dia sudah menunggu di depan pintu apartemen, terkadang mengikuti aku berjalan masuk ke apartemen dari area parkiran. Aku tidak bisa menolaknya, Kevin adalah dosa yang manis. Ya, ternyata aku memang lebih bodoh dibandingkan dengan keledai.
Dan ketika ada seorang karyawan yang baru bergabung di perusahaan kami yang bernama Ronald, aku seperti mendapatkan solusi. Ronald atau Ron ditempatkan di divisiku sebagai satu tim. Ron tidak jauh beda dengan Kevin. Hanya saja, Ron sangat karismatik dan rendah hati. Aku bisa memanfaatkan Ron untuk menghindar dari Kevin, aku butuh seseorang untuk mengalihkan pikiranku dan tentu saja membuat Kevin cemburu.
Saat ini dimana ada Ron pasti ada aku, dan Kevin sangat tidak menyukai hal ini. Aku dapat melihat dari tatapan matanya. Tapi Kevin dengan segala keangkuhannya tidak pernah mau mengakui hal itu, dia berpura – pura tidak mengetahui kedekatanku dengan Ron. Kevin masih tetap mencoba berdamai dengan keacuhanku.
Kevin memukul pelan pundakku.
“Malam ini kamu ada acara nggak?” Tanya Kevin sambil tersenyum.
“Hm, kenapa memangnya Kev?” tanyaku dengan sedikit acuh.
“Aku udah lama nggak main Play Station di rumahmu, boleh nggak aku datang malam ini?”
“Waduh, maaf ya Kev, ntar malam ortuku datang.”
Aku berdusta.
“Lain kali yah.”
Aku tersenyum untuk membuat kebohonganku terlihat meyakinkan. Aku semakin pintar menipu Kevin.
Kevin mengangguk pelan dan langsung pergi meninggalkanku.
Sebenarnya aku sedih melihat anggukan pelannya itu. Dan aku semakin merasa menjadi orang terjahat di dunia yang telah membohonginya. Tapi aku akan semakin sakit dan terjerumus sangat jauh apabila aku mau berdamai dengan hasratku. Aku harus kuat. Sejauh ini semuanya sudah berjalan lancar. Kevin harus membenciku yang akan mengantarnya untuk melupakan aku. Aku tidak boleh lemah.
Malam ini sebenarnya Ron yang akan datang. Aku bisa dikatakan tidak memiliki perasaan apapun terhadap Ron, dia hanya seorang rekan kerja, tidak lebih. Hubunganku dengan Ron tidak sedekat seperti dengan Kevin. Aku hanya menggunakan Ron untuk membuat Kevin marah. Tapi hasilnya belum kelihatan, buktinya Kevin masih ingin datang ke apartemenku, yang aku tahu itu hanya alasan untuk melepaskan hasrat nantinya.
Aku membuka pintu depan apartemenku. Dan Ron sudah berdiri sambil tersenyum. Dia ingin membicarakan sesuatu katanya.
“Silahkan masuk Ron.”
“Terima kasih, tapi aku nggak mengganggu kan?
“Nggaklah, aku juga senang ada teman ngobrol malam ini”
Waktu berlalu dengan cepat, kami bercerita hal – hal yang biasa, gosip di kantor, masalah pekerjaan, hujan yang masih juga belum berhenti malam ini. Setelah beberapa bulan aku mengenal Ron, aku baru menyadari bahwa dia adalah tipe pria yang tidak mudah menyerah dan sangat berempati dengan siapapun. Sangat berbeda dengan Kevin yang sangat suka menilai sesuatu hanya dari sudut pandangnya.
Kevin, oh Tuhan, mengapa aku masih mengingatnya. Seharusnya aku melupakan dia malam ini. Harus aku buang jauh – jauh sosok Kevin dari pikiranku dan mulai berkonsentrasi mendengarkan cerita Ron.
Aku mulai merasa bahwa Ron tahu kalau pikiranku sedang tidak berada di ruangan ini  sekarang. Aku bisa menangkap dari nada bicaranya yang semakin meningkat, dari pelan menjadi agak sedikit memberikan tekanan di setiap akhir katanya.
“Hm, sebenarnya ada yang ingin aku katakan kepadamu malam ini.”
Ron tiba – tiba membuatku sedikit cemas. Apa yang mau dia katakan sehingga dia harus memberikan tatapan yang sangat serius.
“Maaf, kalau aku agak sedikit lancang. Tapi aku tahu dari teman – teman kantor bahwa kita adalah pria yang sama.”
Ron meneruskan perkataannya yang semakin membuatku sakit perut, takut.
“Maksudmu Ron”, tanyaku bingung.
“Aku menyukaimu. Apakah kamu mau menjadi pasanganku?”
Aku terdiam, ternyata Ron menaruh perhatian padaku. Dan aku tidak pernah menyadari hal ini bahkan aku tidak tahu kalau Ron adalah gay. Aku terlalu sibuk menjaga hatiku terhadap Kevin. Bukan menjaga hatiku untuk tetap mencintai Kevin. Tapi melindungi hatiku agar tetap sadar bahwa Kevin bukanlah untukku dan tentu saja mengabaikan sinyal dari Ron.
Aku memang bodoh, masih juga memikirkan Kevin disaat ada seseorang pria baik yang menyatakan rasa sukanya kepadaku. Terbuat dari apa otakku ini? Oh Ron, maafkan aku.
Aku tersenyum dan memegang tangannya. Ron sedikit senang dengan perlakuanku ini.
“Aku tidak bisa berkata apa – apa Ron, aku sangat berterima kasih kamu menyukaiku. Tapi aku harus, hm, maksudku menjawabnya nanti. Boleh kan Ron?”
“Tidak masalah, jangan memaksakan diri.”
Ron sangat baik, bahkan disaat dia tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan dia masih bisa bersikap tenang dan sangat dewasa. Ron mendadak mau pulang, aku tahu dia pasti malu dan tidak ingin keadaan semakin menjadi canggung. Aku mengerti.
Setelah Ron meninggalkan apartemenku, aku mendadak merasa sepi. Mengapa aku bisa bersikap seperti itu, mengapa tidak aku katakan ya saja. Bukankah aku butuh Ron untuk meninggalkan Kevin? Ah, aku tidak boleh sekejam itu. Ron bukanlah pelarian, aku harus bisa berdamai dulu dengan hati dan pikiranku sebelum aku memutuskan untuk menerima Ron. Ron sangat baik untuk dijadikan pengalihan dari masa laluku karena aku tahu aku masih mencintai Kevin.
Tapi semuanya harus diselesaikan malam ini, aku harus bisa melupakan masa lalu, dosa manis itu dan tentu saja rasa cintaku kepada Kevin. Dan aku harus bisa menerima Ron, membuka lembaran baru dan mulai belajar mencintai pria lain. Aku akan mengatakan aku mau menjadi pasangannya Senin nanti, tidak boleh ditunda  lagi.
Resepsionis apartemen baru saja memberitahukan melalui telepon kalau aku ada tamu yang bernama Ronald. Dia kembali lagi, aku senang, apa ada yang ketinggalan? Tapi aku merasa tidak, ada baiknya juga dia datang kembali. Tidak perlu harus menunggu sampai Senin. Aku akan menjawabnya malam ini. Ron akan mengisi hatiku mulai malam ini. Aku akan berusaha menyukainya.
Aku merapikan pakaianku, jawabanku harus membuatnya senang, aku tidak mau dia kecewa untuk yang kedua kalinya malam ini. Jantungku berdetak kencang, sudah lama aku tidak merasakan indahnya saling memegang komitmen untuk pertama kali di awal pacaran. Aku membuka pintu dengan senyum yang dapat kupastikan mengembang dengan manis.
Kevin tersenyum. Yang ada dihadapanku sekarang ini bukan Ron melainkan dia.
“Terima kasih atas senyumannya, atau senyum itu bukan untuk ku?”
Kevin langsung melancarkan serangan dengan kata – kata sinisnya. Dan aku hanya diam, ketakutan.
“Benar dugaanku, senyuman itu sudah menghilang sekarang. Aku baru tahu kalau Ronald itu ternyata ayahmu.”
Kevin melontarkan lelucon yang menyindir dan semakin bersemangat karena aku diam tak berdaya. Aku hendak masuk dan menutup pintu, tapi Kevin menarik lenganku. Aku memandang matanya, aku mencoba untuk berpura – pura tidak takut.
Kevin pasti membuntutiku sepulang kerja tadi, menunggu di area parkir dan mencari tahu apa benar orang tuaku yang datang mengunjungiku sekarang. Dia pasti melihat Ron. Dan ketika dapat dipastikan Ron sudah pulang, Kevin masuk dengan menggunakan nama Ron agar aku mau menerima kunjungannya. Kevin sangat cerdas.
“Kamu tidak mempersilahkan aku masuk?”
“Apa maumu Kevin.”
“Apa mau ku? Aku yang seharusnya bertanya kepadamu. Apa mau mu?”
Aku diam.
“Kenapa kamu meninggalkan aku begitu saja. Ron kah penyebabnya? Kalian sudah sejauh apa?”
Kehadiran Ron malam ini semakin memperkuat asumsinya bahwa aku memiliki hubungan spesial dengan Ron.
“Bukan urusanmu.”, aku mencoba ketus untuk menutupi kegugupanku.
“Ayolah, ngaku, kamu tidak mungkin setega itu kepadaku kalau tidak memiliki hubungan khusus dengan dia.”
Kevin merendahkan nada bicaranya, seperti biasa, dia mulai merasa tidak nyaman, takut ada yang melihat. Kevin mulai melihat ke kanan dan ke kiri. Memastikan kalau perdebatan kami ini tidak ada yang melihat. Aku sangat diuntungkan dengan ketakutannya itu. Dan aku tetap tidak mau dia masuk ke apartemenku.
“Maafkan aku, walau aku tidak tahu salahku. Coba jelaskan apa maumu.”
Aku menyayangimu Kevin. Aku masih mencintaimu, tidak sadarkah dirimu?
“Ceraikan istrimu.”
Aku tidak tahu mengapa aku bisa berkata seperti itu. Oh Tuhan, maafkan aku. Aku merasa tanduk setan sudah muncul diatas kepalaku. Aku teringat wajah istri Kevin yang sangat baik itu, aku memang jahat.
“Menceraikan istriku? Sudah gila kamu.”
Aku mendadak naik emosi.
“Gila? Kamu bilang aku gila? Lebih gila mana dengan dirimu? Hah? Ingin tetap bersama diriku tapi tidak mau menceraikan istrimu.”
Aku sebenarnya tidak bersungguh – sungguh mengatakan itu, aku hanya ingin Kevin terluka dengan kata – kataku. Aku ingin dia pergi dan marah kepadaku. Aku ingin dia membenciku sehingga aku bisa juga membencinya dan tentu saja melupakannya.
Kevin menutup wajah dengan kedua tangannya, ciri khasnya kalau sudah mulai naik darah dan mendesahkan suara yang aneh sambil menarik nafas dalam - dalam. Tapi aku secara spontan mulai merasa berani karena aku yakin aku diatas angin saat ini.
“Karena aku menginginkanmu.”
Jawaban Kevin yang singkat itu membuatku lemas. Menginginkan. Aku merasa jadi seonggok benda yang hanya diinginkan ketika dibutuhkan dan tidak berarti ketika sudah tidak diperlukan. Mainan yang tidak perlu perhatian seusai digunakan.
Aku sangat naïf. Itulah alasannya mengapa Kevin selalu mendiamkanku seusai bercinta. Meninggalkanku sendiri setelah hasratnya terpenuhi, karena dia hanya menginginkanku. Tidak ada yang lainnya, tidak pernah ada kata cinta disana. Kevin hanya emosi saat ini karena dia menyangka mainannya sedang direbut orang lain. Bukan karena cemburu, hanya ego sesaat dan juga bukan karena rindu.
Aku semakin merasa tak berarti. Aku menangis, terkesan lemah memang, tapi aku tidak sanggup lagi berpikir, semua sudah terjawab. Tidak ada ketulusan ketika dia mencumbuku. Kevin memandangku dengan tatapan bersalah.
     “Kevin, aku masuk dulu yah, aku ingin sendiri saja malam ini.”
Aku sedikit mereda, tidak ada gunanya berdebat dengan Kevin, semuanya sudah jelas. Aku mau menutup pintu, tapi Kevin menarik pintu dan mencoba menahanku.
“Jangan sedih ya, maaf aku telah membuatmu menangis. Apapun salahku, aku mohon maaf, aku berharap kita masih bisa seperti dulu lagi.”
Aku tidak bereaksi dengan permintaan maafnya, aku tidak butuh.
Kevin menarik tanganku, mengelusnya dengan lembut dan menciumnya. Sudah terlambat Kevin, semuanya berakhir malam ini.
Ketika aku menutup pintu, sayup aku mendengar Kevin mengatakan,
“Aku mencintaimu.”
Aku tidak yakin dengan pendengaranku, mungkin itu hanya suara pengharapanku, aku juga tidak tahu. Ah, Kevin, sulit untuk benar – benar bisa meninggalkanmu, bahkan didalam rasa benciku aku juga masih berharap akan mendengarkan kata cinta itu.
Aku melekatkan telingaku pada pintu, aku ingin memastikan kalau Kevin sudah pergi. Tapi kembali aku mendengar kata itu, aku mencintaimu. Kali ini kata itu diucapkan dengan suara yang bergetar seperti menahan tangis. Telingaku tidak salah, Kevin mengucapkan kalimat itu berulang kali disana.
Aku meraih gagang pintuku dan membukanya kembali.

Kamis, 12 Januari 2012

Lagu Untuk Sumi


Sumi terdiam, pikirannya kalut, tak tahu dosa apa yang telah dia lakukan. Jangankan bermimpi, membayangkannya saja tidak pernah. Pagi tadi sebelum menyapu ruang tamu yang luasnya hampir sama dengan rumahnya di kampung, Sumi menerima pesan singkat. Biasanya dia tidak memperdulikan bunyi telepon genggamnya ketika sedang bekerja. Sumi penyungkan, walau sang majikan tak pernah mempermasalahkannya. Tapi kali ini seperti ada dorongan kuat di hatinya untuk segera merogoh sakunya, mengambil telepon genggam mungil murah yang dia beli tiga tahun lalu dan membuka kotak masuk. Ada sebua pesan dari suaminya.
Sumi mendadak kuatir, takut kalau menerima berita buruk. Tak biasanya suaminya berkirim pesan singkat. Selalunya mereka akan mengobrol pada malam hari ketika operator telepon menawarkan tarif hemat disela –sela kelelahan Sumi. Tapi suara tawa dan canda suami Sumi seperti obat mujarab yang mampu mengusir rasa letihnya. Waktu satu jam kadang tak terasa apabila mereka melepas rindu. Apalagi kalau suaminya sudah mengucapkan kata kangen, airmata Sumi meleleh seperti es krim yang lupa dimasukkan ke lemari pendingin dan mencair tak karuan.
Biasanya seusai itu Sumi akan merasa berdosa karena telah meningggalkan suaminya dengan alasan ingin memperbaiki ekonomi. Sumi memang hanya lulusan SMP tapi pemikirannya jauh melampui lulusan SMA. Sumi tak mau menderita berkepanjangan, apalagi mewariskan kemiskinan untuk anak – anaknya kelak. Tekadnya, kalau bukan dia yang mengubah nasibnya sendiri, tak akan ada yang pernah mau peduli dengan orang sepertinya. Hidup ibarat keramik, rapuh sekaligus rumit. Tergantung kita yang mau membentuknya menjadi apa. Nasib bukan untuk diratapi dan diterima apa adanya tapi harus diperjuangkan.
Sumi sudah memperjanjikan di awal perkenalan dengan Tarno, pria yang hendak menyuntingnya ketika itu. Sumi harus bekerja di Malaysia. Saat itu Sumi menggadang – gadang kalau gaji yang akan dia dapatkan nantinya akan diubah menjadi sebuah rumah dan tabungan untuk menjamin pendidikan anak – anaknya nanti. Tarno mengangguk – angguk dengan tatapan kagum ke arah Sumi. Tarno mengatakan tak salah pilih calon istri. Sumi lanjut mengatakan lebih baik dirinya yang harus jauh bekerja di Negara orang lain, tenaga wanita lebih banyak dibutuhkan ketimbang laki – laki. Tarno mengiyakan dan Sumi tersenyum, ia pun merasa tak salah pilih calon suami.
Sebulan setelah menikah, Sumi berangkat ke Malaysia. Semua dokumen yang dibutuhkan sudah siap, Sumi juga sudah membekali diri dengan sedikit kemampuan mengucapakn beberapa kata dalam Bahasa Inggris. Walau mungkin masih banyak salahnya, Sumi yakin dengan berjalannya waktu, kesalahan bisa diperbaiki. Sumi bukan hanya ingin merubah nasib pergi ke Malaysia, dia juga ingin belajar, biar kelak dia bisa bernyanyi lagu barat dengan anak – anaknya.
Sumi menangis tersedu – sedu, Tarno memeluknya dengan erat, seperti tak rela Sumi pergi mengadu nasib di Malaysia. Tarno berulang kali mengecup kening Sumi, seakan – akan kecupan itu akan menjadi mantera guna yang akan melindungi Sumi disana. Tangisan Sumi semakin menjadi - jadi, yang semula hanya isakan pelan kini menjadi raungan. Berat memang, tapi apa hendak dikata, semua sudah direncanakan dan Sumi adalah tipe perempuan yang pantang berkata mundur.
Ketika Sumi harus masuk ke dalam ruang tunggu di bandara udara. Suaminya melambaikan tangan, mata Sumi bengkak dan berulang kali dia menyeka mata dan hidung dengan selembar tissue tipis yang dibelikan suaminya. Sumi tak tega melihat ke arah Tarno dan kedua orangtuanya. Dia tak mau jatuh pingsan dan harus dipapah orang ramai. Kali ini Sumi melemparkan senyumnya walau airmatanya masih jatuh tak berkesudahan.
Sumi membaca lagi pesan singkat pertama dari suaminya itu, “Sumi istriku, aku mau minta maaf karena aku telah melakukan kesalahan. Aku berselingkuh.”
Sumi bingung,
“Aku mengerti kalau kepergianmu ke Malaysia untuk meraih impian kita berdua, tapi aku kesepian.”
Sumi kelu.
“Maafkan aku Sumi.”
Sumi merasa dunianya berputar cepat, dia seperti orang mabuk. Ingin menangis tapi tak bisa. Dadanya sesak, jantungnya berdegup keras. Sumi tak pernah mempercayai kata – kata suaminya itu. Dia mulai memikirkan, siapa wanita yang telah mengisi hari – hari sepi suaminya? Apa yang telah mereka lakukan? Bagaimana mereka berkenalan? Apakah saat Tarno mengatakan kangen berat, wanita itu ada disampingnya. Sumi menduga – duga dan terbakar cemburu.
Sumi murung, tubuhnya lemas, bahkan untuk mengangkat sapu saja tangannya tak bisa. Surti mencoba untuk memahami, tapi otaknya tak mampu berpikir. Dia merasa selama di Malaysia tak pernah melirik pria manapun, apalagi sampai jatuh cinta. Bagi Sumi saat itu suaminya adalah makhluk sempurna yang melengkapi rongga kosong dihatinya. Ternyata salah, rongga itu hanya berisi cinta palsu. Sumi menangis tersedu lirih.
Tiba – tiba telepon genggamnya kembali berbunyi. Sumi takut membaca pengakuan dosa suaminya yang lain lagi. Sudah tergenapi luka hatinya, tak perlu lagi ditambahi. Tapi rasa penasaran membuatnya berani, apa lagi yang akan dikatakan Tarno? Sumi pasrah.
“Sumi, maafkan aku, aku belum sanggup kehilangan kamu.”
Kenapa mendadak dia tak sanggup kehilangannya, bukankah tadi dia mengatakan kalau sudah menemukan yang lain. Sumi tak mau membalas kembali pesan singkat aneh itu.
“Aku sudah memutuskan hubungan dengan wanita itu. Kembali padaku Sumi. Aku akan menantimu.”
Membaca pesan singkat berikutnya dari Tarno tiba – tiba memberi kekuatan yang tak terduga untuk Sumi. Bukan karena Sumi merasa iba atau senang karena ternyata Tarno masih menginginkannya. Hanya saja Sumi merasa dia membutuhkannya. Memang Tarno masih menganggur, uang yang dia gunakan sehari – hari adalah hasil keringat Sumi. Sebagian dari gajinya dia kirimkan kepada Tarno setiap bulannya.
Sumi tersenyum, serasa mendapatkan suntikan imun terhadap suatu penyakit, hatinya mulai tak sakit lagi. Kini Sumi berbalik merasa jijik membayangkan wajah Tarno. Seenaknya mempermainkan perasaan perempuan, kalau ada untungnya saja maka dengan mudahnya dia berpaling. Sumi berpikir bahwa Tarno selama ini membayari kebutuhan sepinya itu mungkin dengan uangnya. Dan kalau saja Sumi menghentikan kiriman uang setiap bulannya kepada Tarno. Perempuan barunya itu juga tak akan segan – segan mendepaknya. Rasa jijik itu mulai berubah bentuk menjadi rasa benci.
Sumi memang hanya lulusan SMP tapi dia tak sebodoh seperti yang disangka orang. Sumi sudah mandiri sejak kecil. Menggunakan akal pikiran sudah lama dia praktekkan ketimbang harus menggunakan perasaan hati. Bagi Sumi kalau bukan dia sendiri yang membantu dirinya, siapa lagi yang bisa dia harapkan?
Perkenalan singkat dengan Tarno yang disambung dengan pernikahan dan diakhiri dengan cerita yang mengenaskan ini membuat Sumi menarik pelajaran. Hidup ibarat pekerjaan rumah tangga, kadang berat kadang ringan, kadang penuh dengan kotoran dan tak sedap dipandang mata. Tapi harus kita sendiri yang mengupayakan agar pekerjaan itu menjadi ringan dan menyenangkan. Caranya dengan kesabaran dan kesetiaan mengatasinya.
Tarno sudah gagal dalam ujian kesetiaan, apalagi yang bisa diharapkan Sumi. Kalau hal ini sudah terjadi sekali bukan berarti dikemudian hari tak terulang lagi. Sumi sudah jera sakit hati.
Sumi mulai mengarang – ngarang pesan singkat yang hendak dia sampaikan kepada Tarno. Sebuah jawaban yang akan membuatnya bahagia. Tak perlu dia memikirkan perasaan orang lain. Juga orang lain tak pernah memikirkan perasaannya. Buat apa berbaik hati lagi dengan Tarno. Harus dihentikan sekarang atau makan hati selamanya. Sumi sudah memutuskan.
“Mas, aku mengerti perasaanmu, aku tidak melarangmu untuk menungguku. Tapi aku yakin apa yang akan kamu lakukan sia – sia. Kembali lah kepada perempuan itu. Aku memang tak pantas untuk menjadi pendampingmu. Maafkan kesalahanku dan kita mulai hidup baru masing - masing.”
Kali ini Sumi tidak ragu sedikitpun menuliskan kata – katanya, bahkan dengan lancar dia menulis. Sumi senang, baru kali ini dia bisa memutuskan sesuatu dengan cepat. Mungkin terasa terburu – buru, tetapi apa yang dilakukan Tarno sudah melewati batas kewajaran. Sumi sudah memaafkan kesalahan Tarno tapi untuk bersatu lagi Sumi tak bisa. Dia bakal menderita seumur hidup apabila membayangkan kesalahan itu.
Sumi teringat ketika tadi malam dia mendengar anak majikannya bernyanyi lagu yang langsung nyangkut ditelinga, Sumi bertanya lagu apa itu? Gadis muda itu mengatakan kalau judulnya I Will Survive yang artinya aku akan bertahan. Sumi mau minta diajarkan lagu itu nanti kalau anak majikannya itu sudah pulang sekolah. Sumi akan menanyikannya setiap hari sampai dia bisa melupakan episode kelam dalam hidupnya ini. Sumi mengelus – elus perutnya yang sedikit membesar. Kelak dia juga akan mengajarkan anaknya lagu itu.
(photo courtesy from Google)