Selasa, 29 November 2011

Sepi


Sepi, itu adalah namaku. Jangan heran, aku sendiripun tidak mengerti mengapa orangtuaku sangat tega memberi nama seperti itu. Sepi Navius Hutapea, pria batak dari keluarga yang sangat ortodok. Kalau menurut cerita Mama, aku lahir dimalam ketika angin pelan berhembus, sepi, jangan kan suara kucing mengeong atau anjing menyalak, jangkrik pun tidak terdengar berderik. Bahkan, masih menurut cerita Mama, dia tidak berteriak ketika mengeluarkan aku dari rahimnya dan suara tangisku pun lirih tidak menggema.
Nama adalah doa, itu tidak pernah kupungkiri. Aku tumbuh menjadi anak yang pendiam. Aku tidak pernah tertawa lepas kalau lagi senang ataupun berteriak kencang mengadu ketika kesakitan. Terkadang aku berharap namaku adalah Ramai Navius Hutapea, pasti sangat menyenangkan. Hanya angan – angan saja memang, aku juga tidak mungkin protes ketika namaku dicatatkan pada akte kelahiran. Menyesal tidak akan pernah mengembalikan waktu, menyesal tidak akan pernah membuat aku menjadi anak yang ramai.
Tapi ada untungnya menjadi anak yang pendiam, setidaknya Mama sangat perhatian. Kecuali Papa, baginya anak lelaki haruslah lantang bersuara, gaduh berteriak, berlari kesana kemari, belajar dan mencari tahu dunia ini. Bukan hanya duduk diam melamun. Papa tidak mengerti, aku juga belajar mencari tahu tentang dunia ini dibalik diam.
Aku maklum akan keinginan Papa, aku tidak pernah menyalahkannya, dia hanya menginginkan kelak nantinya aku akan dapat bertahan melawan kerasnya kehidupan ini. walau sesuatu yang keras bisa juga dihadapi dengan benda yang lunak, karena karang saja bolong diterjang air laut.
Seharusnya Mama sudah berada disini satu jam yang lalu. Kami berencana membeli kado ulang tahun untuk Papa. Kejutan yang indah nantinya. Aku juga sebenarnya ingin memberikan kejutan, tapi aku tidak tahu apa. Aku tidak punya ide menarik yang membuat orang lain berdecak kagum. Hidupku hampir bisa dipastikan sangat membosankan.
Sampai ketika saat Sylvi datang dikehidupanku. Tepatnya ketika dia berada di depan kelas. Gadis berambut panjang sebahu itu baru saja pindah dari Padang karena ayahnya yang bekerja di kepolisian harus bertugas di Medan. Aku tahu, dia terpaksa duduk denganku karena bangku di sampingku memang selalu kosong. Tidak ada satu anakpun yang sudi berteman denganku, bagi mereka aku tidak ada bedanya dengan batu. Selalu diam tak bergerak, apa yang bisa mereka dapatkan kalau berada disampingku, bisa – bisa mereka ketularan penyakit diam yang akut.
“Hai, aku Sylvi Mariani”, tegurnya mencairkan suasana sambil mengulurkan tangannya agar kami bersalaman.
Bukankah dia tadi sudah mengenalkan dirinya di depan kelas. Aneh.
Aku mengulurkan tangan dengan malas, bersalaman. “Nama kamu?” dia bertanya dengan antusias. Padahal menanyakan namaku bukanlah sesuatu yang sangat penting menurutku.
“Sepi Navius Hutapea”, jawabku sambil tersenyum.
“Kamu serius?” matanya terbelalak keheranan, “Nama depan kamu benar – benar Sepi?”
Kadang aku heran dengan diriku sendiri, apa susahnya menjawab ya. Tapi aku malas, nanti kalau dijawab dengan kata ya, pasti selanjutnya dia akan bertanya, koq bisa sih? Nama depanmu unik ya, atau setidaknya aku akan mendapatkan komentar yang membuatku trauma seperti yang pernah diucapkan guruku ketika SMP dulu,
“Hah? Sepi namamu? Yang teganya orangtuamu itu, atau mereka punya kenangan spesial dengan namamu, mungkin saja ketika kau masih di dalam kandungan, ibumu senang pipis, makanya kau dinamakan Sepi, singkatan kayaknya namamu. Hahaha.” Dan masih, perkataan guruku itu selalu menjadi mimpi buruk bagiku.
“Koq bisa?
Nada suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku.
Kali ini aku akan mengeluarkan jurus mautku, pura – pura tidak mendengar dan kembali diam membaca buku. Aku lelah dengan pertanyaan itu dan itu terus, dulu ketika aku kecil, aku masih mau menjelaskannya, tapi seiring dengan bertambahnya usiaku, aku berharap Mama selalu ada disampingku untuk menjawab pertanyaan yang terus berulang.
Karena tidak mempedulikan pertanyaan yang diajukannya, dia merasa malu dan pura – pura melihat ke depan kelas. Aku memang jahat, tapi tidak berniat seperti itu. Ah, bodoh amat, mengapa juga harus memikirkannya. Paling seminggu lagi dia akan bosan dan pindah mencari bangku yang bersedia didudukinya.
Sebulan sudah berlalu, tetapi dia masih betah duduk disampingku. Aku juga heran, apakah dia tidak sadar kalau aku sangat membosankan. Mungkin dia sudah lelah dengan hiruk pikuk dunia, tapi yang aku tahu dia selalu berusaha ramah terhadapku. Atau jangan – jangan wanita ini sudah gila, kenapa juga aku harus peduli. Aku akan mengikuti apa maunya.
Sylvi memang ramah, selalu menyapaku, mengajakku berbicara ataupun menawarkan kue yang selalu dibawa dari rumah. Mungkin ibunya gemar memasak atau Sylvi senang makan, ntahlah, untuk apa juga aku ingin tahu, semakin sering aku memikirkannya, semakin peduli aku dengannya.
Sylvi curhat kalau dia dulunya gendut, dia berusaha mati-matian untuk diet dan sukses terkapar di rumah sakit sampai dua minggu. Anehnya, dia malah malas makan setelah sakit, sehingga tidak perlu diet lagi. Cerita yang konyol menurutku, kenapa tidak ikutan senam fitness saja seperti cewek – cewek lainnya. Tidak perlu menderita tapi hasilnya lumayan maksimal. Aku tidak mengerti wanita dan tidak akan pernah.
Sudah tiga bulan, dan dia masih betah duduk disampingku. Sylvi pernah berkata kalau dia senang menceritakan tentang hal pribadinya kepadaku, menurutnya aku ini hampir mirip dengan catatan harian, hanya saja aku punya mata, hidung, telinga dan tentu saja bernafas. Aku senang mendengarnya. Yang akhirnya diselesaikan penjabaran mengenai diriku dengan kata – kata yang membuat pipiku merona.
“Walaupun kamu berusaha menghindar, pura – pura tidak mendengarkan, aku tahu pasti kamu pasti menyimak setiap kata yang aku ucapkan, hm, setidaknya, kamu tidak akan bercerita kepada orang lain hal – hal yang aku katakan. Kamu bukan toa kan?”.
Dan nada rindu pun mulai mengalun merdu dihatiku.
Mama belakangan ini sering menggodaku, awalnya karena aku menerima telepon dari Sylvi yang sebelumnya diangkat oleh Mama, gawat, dari mana dia tahu nomer teleponku. Papa tersenyum kecil, pasti dia sedang berpikir kalau anaknya yang kurus ini sudah menjadi lelaki sejati, mulai mengenal lawan jenis. Bahkan Mama sudah mulai berfikir terlalu jauh dengan mengatakan ingin punya banyak cucu.
Baru dapat telepon saja Mama sudah berpikir yang bukan – bukan, apalagi kalau Sylvi bertamu ke rumah, mungkin Mama akan berpikir dimana nanti cucu – cucunya harus dikuliahkan. Anehnya aku malah berharap Sylvi datang kerumahku.
Semua bentuk perhatian yang diberikan Sylvi membuatku jadi berubah, aku mulai menyukai hal – hal yang dulu sangat aku benci. Aku mulai menjadi anak yang rapi, menjadi pria yang mudah tersenyum, masih tetap pendiam, tapi lebih hidup kata Sylvi. Aku senang dengan pujiannya. Tidak sadarkah dia, karenanya aku menjadi lebih hidup. Sylvi bagaikan tabung oksigen yang selalu membantuku menemukan pengalaman hidup yang baru, penuh warna, tidak pernah merasa sepi lagi. Cahaya hidupku. Selamat tinggal Sepi yang dulu.
Aku merasa kedinginan saat ini. Aku lupa lagi membawa sweater, kemana ya Mama, sepertinya aku mau sakit. Rasa dingin ini membuatku kalut dan lupa dimana sekarang aku berada, kalau saja bukan karena Mama, aku tidak mau berada disini.
Aku melihat Sylvi satu jam yang lalu, bertegur sapa, dia mengenalkan seseorang, pria yang matanya selalu berbinar ketika memandang ke arah Sylvi.
“Sep, kenalkan ini Zefri”.
Sylvi tersenyum, wajah manis yang selalu membuatku rapuh itu kini sedang memandang wajah pria itu dengan tatapan yang sangat hangat.
“Aku Sepi”, ucapku dingin dan ketus.
“Zefri. Aku sudah tahu siapa kamu. Sylvi selalu bercerita tentang kamu.”
Aku tersentak, menyadari kalau bukan satu – satunya diary Sylvi, masih ada Zefri yang mendengarkan segala ceritanya. Sialan, cemburu dan aku marah, mulai merasa ditinggalkan. Pasti Zefri lebih dari sekedar diary bagi Sylvi. Zefri tidak bisa dibandingkan dengan diriku. Dia adalah anak lelaki yang dirindukan Papa. Dan aku bukanlah lelaki yang diharapkan Sylvi untuk menonton bersamanya.
Mendadak merasa sakit, aku menyalahkan Sylvi sebagai penyebabnya, aku harus pergi sekarang juga. Aku mengingat – ingat seluruh cerita Sylvi yang pernah dia bilang kepadaku. Tidak pernah ada satu nama Zefri yang pernah dia katakan. Apakah aku melewatkan sesuatu? Tidak, aku memang pendiam tapi bukan pelupa.
“Syl, aku pergi dulu ya, aku ada janji dengan Mama mau belanja”.
Tanpa menunggu persetujuannya aku berlalu. Memang kelihatan sangat tidak sopan. Tapi tidak mungkin bisa bersikap sewajarnya dalam situasi seperti ini. Aku tahu, Sylvi kelihatan sedih dengan perlakuanku, tapi apakah dia tahu aku akan sakit kalau mencoba bertahan berbicara bersamanya.
Sebenarnya aku tidak boleh seegois itu, bukankah Sylvi adalah wanita yang telah mengusir rasa sepiku. Saat ini aku merasa seperti orang pesakitan, pendosa besar. Senin nanti Sylvi pasti akan pindah dari bangkunya dan mencari meja yang lain, dia pasti menganggapku aneh. Aku bukan pacarnya. Aku bukan siapa – siapa baginya, hanya teman satu meja.
Aku mulai ketakutan, merasa sunyi kalau dia tidak mau lagi bercerita kepadaku. Perutku kaku, mual, aku akan mencari toilet dan mengeluarkan seluruh sakit hatiku. Aku harus melakukan sesuatu agar Sylvi tetap mau menganggap aku adalah sahabat yang dibutuhkannya. Saat ini juga, tidak boleh ditunda sedetikpun.
“Syl, ini aku belikan cappuccino milkshake untukmu dan Zefri”.
 Aku memberikan dua gelas plastik bening dengan senyum sandiwara setulus mungkin, pria bajingan itu terlihat sedang antri untuk membeli tiket film yang akan mereka tonton.
Wajah manis itu tersenyum manis sekali seperti bidadari, aktingku ternyata sukses besar. Sylvi, seandainya saja kau tahu kalau aku lebih pantas menemanimu nonton saat ini dan bukannya pria sialan itu. Dan jika saja kau tahu aku sangat menyayangimu.
“Terima kasih ya Sep, kamu memang teman terbaik yang pernah ada.”. Sylvi menyentuh tanganku. Aku tersenyum, kali ini bukan sandiwara, aku memang yang terbaik bagimu, sayang.
“Nggak masalah Syl, maaf tadi aku agak kurang bersahabat, mungkin karena kepalaku agak sedikit pusing.”, aku mengusap – usap  kepalaku.
“Kamu sakit Sep?”, tanya Sylvi cemas. Nada peduli itu yang selalu ku rindu.
“Ah, nggak koq Syl, biasa lah, pusing nungguin Mama dari tadi.”, aku mencoba tidak terlihat membutuhkan perhatiannya.
“Koq nggak ditelpon saja ke HP Mamamu?”
“Sudah Syl, tapi HP Mama dari tadi tidak aktif. Hm, aku pergi dulu ya Syl, selamat nonton ya.”
Aku harus cepat pergi dari sini kalau jantungku tidak mau pecah.
“Terima kasih ya Sep, sampai ketemu besok”, Sylvi melambaikan tangannya dan mengerlingkan matanya. Aku cepat – cepat melarikan diri.
Semua sudah baik seperti semula, Sylvi ternyata masih peduli kepadaku. Rencana berjalan lancar seperti yang aku perkirakan. Sylvi tetaplah milikku. Perutku bertambah kaku, dadaku sesak merasa hampa dan aku pun mulai menangis.
Rasa mual yang sangat hebat membuatku lemas, rasanya bagai ditarik oleh kawat duri. Kesakitan, Terus memegangi perutku, aku menangis, meringis pelan tak ingin ada yang tahu. Racun tikus yang baru aku makan mulai bereaksi di perutku, aku tidak mau memuntahkannya, biar saja bersemayam di perutku. Keringatku mengucur dengan deras, pucat, pelataran parkir terasa hening. Hitam, dan aku pun terjatuh.
Aku tidak menyesal, memang aku ingin mengakhiri hidupku. Aku bukan siapa – siapa bagi Sylvi dan aku juga tidak akan bisa hidup tanpa dia. Aku puas, setidaknya Senin nanti aku tidak perlu mendengarkan penjelasan Sylvi, siapa si Zefri itu, hal romantis apa yang telah mereka lakukan di dalam bioskop, mati adalah jalan keluar yang terbaik.
Aku sudah tinggal nyawa. Di sebuah Rumah Sakit aku melihat Mama terus menangis sambil memeluk Papa. Wajah Papa merah padam, tubuhnya bergetar menahan tangis. Sebuah kejutan besar, kematianku, hadiah ulang tahun untuk Papa. Tak pernah aku bayangkan akhirnya aku bisa juga membuat sebuah kejutan.
Disudut ruangan aku melihat Sylvi, gadis manis itu terdiam pucat. Aku tak tahu perasaanku saat ini. Masa lalu yang menunggu waktu. Bahkan belum tahu tujuan selanjutnya. Aku memandang dengan penuh harapan sayu, kembali mencatat dan membuat peta keindahan wajahnya agar bisa kubayangkan kembali ketika menutup mata. Aku ingin memeluknya.
Sylvi masih terdiam tanpa ekspresi, lebih pucat dari biasanya, tetapi masih saja manis. Ingin sekali aku membelai wajahnya dan memegang tangannya, berbisik mengatakan aku cinta. Hal yang kini aku sesali, keberanian tumbuh setelah aku bahkan tak membutuhkannya. Aku selalu merindukan Sylvi, bahkan ketika aku memandang wajahnya.
Aku membuka bungkusan racun tikus itu dengan perlahan, ada sedikit keraguan, tapi sakit hatiku menang dan logikaku kalah. Hari ini atau selamanya menjadi pecundang. Aku mengunyah butiran – butiran racun tikus dengan perlahan, pahit,  tapi nanti rasa itu akan hilang, racun memang obat terbaik untuk menghilangkan pahitnya patah hati.
Seorang wanita paruh baya berteriak histeris. Semua orang berlari mendekat hendak menolong, menyangka kalau Ibu tersebut dirampok. Tapi mereka hanya menemui jasad terbujur pucat diatas lantai dingin, takut dan prihatin. Ada yang mencoba memberikan nafas bantuan, menggerak – gerakkan tubuh kaku sambil berteriak, ”Bangun”. Sia – sia.
Lambung Sylvi yang lemah membuat racun tikus sangat cepat bereaksi menyebar di peredaran darahnya. Melumpuhkan saraf dan menghentikan denyut jantungnya. Rencanaku berhasil, minuman persahabatan yang berisi racun membuat Sylvi kini tak bernyawa.
Tapi Zefri sialan itu ternyata dapat diselamatkan. Dia duduk lemas diatas kursi roda, seharusnya dia mati saja dan membusuk di neraka. Bercerita kalau awalnya Sylvi merasa perutnya lagi bermasalah, mual, dan pergi ke toilet sendirian. Tidak ada yang tahu kematian Sylvi di dalam toilet, tidak ada yang menolongnya ketika dia meregang nyawa. Karena semua orang sangat sibuk menyelamatkan pria bajingan itu yang muntah digelapnya ruang bioskop. Tapi aku bahagia.
Aku tidak menghiraukan tuduhannya kepadaku, biang semua duka yang terjadi saat ini. Yang paling penting adalah Sylvi dan aku, akan berkumpul kembali, tidak ada yang akan mengusik, abadi. Di ujung cerita yang akan aku masuki nantinya, tempat menumpahkan segala isi hati, aku akan memandang puas wajah manisnya. Aku tahu Sylvi sedang menunggu disana. Tak akan ada benci, hanya cinta yang akan selalu dibicarakan.
Sebuah cahaya menarik dengan sangat kencang dan cepat. Aku merasa senang, saat yang aku nantikan. Sylvi, hanya kita berdua saja. Aku sudah tidak sabar ingin memelukmu. Aku yang akan segera memilikimu. Cahaya itu semakin terang dan menyilaukan mata, pasrah, tubuhku semakin ringan, berharap ingin segera cepat sampai.
Tiba – tiba semua berhenti, aku perlahan membuka mataku. Kabur. Hening dan dingin. Aku menduga – duga, apakah ini yang dinamakan surga? Ternyata surga sama sepinya dengan perasaanku. Dibalik kabut aku melihat ada sebuah bayangan. Aku yakin Sylvi ada diujung pandanganku. Hatiku damai.
Kedua tangan Sylvi menyentuh lenganku. Aku meraih jari – jari lembut miliknya  dan berusaha sekuat tenaga menggenggamnya. Sayang, apakah kau juga sangat merindukanku? Aku menangis haru, apakah kamu juga sudah tidak sabar bertemu denganku yah? Aku mendekat dan mendekapnya. Sayup terdengar pelan suara yang sangat aku kenal itu ditelinga.
“Sepi, anakku, jangan lagi kau tinggalkan Mama yah.”
Tubuhku gemetar dengan hebatnya, aku tersadar, kabut itu seketika lenyap seiring dengan berlinangnya air mataku. Aku sedang memeluk Mama bukan Sylvi. Secepat mungkin aku melepaskan dekapanku untuk Sylvi. Aku mulai menitikkan air mata kembali, dadaku yang sesak terguncang hebat. Aku meronta dan menghempaskan tubuhku diatas tempat tidur. Kemudian aku berteriak untuk pertama kalinya.
“AKU INGIN MATI”.
(Photo courtesy from Fajar Pane - Taka No Me Photoworks)

Minggu, 27 November 2011

Pengalaman Unik Di Bioskop

                                 (photo courtesy from Google)
Masih ingat dengan 10 tipe penonton bioskop di film Janji Joni besutan Joko Anwar? Aku termasuk tipe penonton No. 10, tepatnya penonton perfectionist. Sejak kecil aku sudah terbiasa pergi menonton di bioskop, bahkan menurut cerita ortuku, ketika aku dalam kandungan, Ibuku sering menonton film India kesukaannya di bioskop. Jadi tidak heran kalau akhirnya aku tumbuh menjadi penggila film.

Menjadikan bioskop sebagai ”rumah kedua”, membuatku banyak menemukan pengalaman unik sekaligus lucu. Dan kali ini aku mau membaginya disini, check these out!

1.      Penonton Piknik
Makan cemilan di bioskop adalah hal lumrah yang kita temui di bioskop. Walaupun sebenarnya aku kurang suka kudapan di bioskop karena mengurangi kosentrasi menonton. Tapi bakal terlalu berlebihan kalau tiba – tiba tercium aroma Nasi Padang di dalam studio bioskop. Untung saja penonton yang membawa bekal makan malamnya tersebut tidak duduk di depan dan gelar tikar. Lebih parahnya, salah satu yang sedang makan berbisik kepada temannya, ”Sshh, air cuci tangannya mana?”. OMG sudahlah makan di dalam bioskop, lupa pula membawa sendok.

2.      If  You Are Happy and You Know It Clap Your Hand
Tidak jarang, kalau menonton film action, apabila pada suatu adegan sang hero bisa menyelamatkan dunia. Bakal banyak yang bertepuk tangan dengan hebatnya. Tepuk tangan memang tidak dilarang, tapi lebih baik dilakukan ketika film usai, karena film bukan konser musik atau tarian. Tepukan tangan yang riuh kadang sangat menganggu kalau dilakukan dipertengahan jalannya film.

3.      Penonton 3M (Malu Malu Mau)
Ketika menyaksikan sebuah film yang berkategori R di bioskop, ada sebuah pengalaman yang membuatku tersenyum geli. Lampu padam dan film berjalan sekitar lima menit. Tiba – tiba masuk segerombolan cewek remaja kedalam bioskop dengan malu – malu. Tentu saja mereka mengganggu para penonton yang sedang konsentrasi ke arah layar. Dan tepat lima menit sebelum film berakhir, mereka juga keluar dari bioskop beramai – ramai. Apakah mungkin mereka tidak mau ada yang mengetahui kalau baru saja menonton film untuk dewasa?

4.      Back Up Singer
Untuk membuang waktu dan juga rasa penasaran menonton film di kota kecil, ketika mengunjungi rumah saudara di Kisaran, Sumatera Utara, aku membeli tiket untuk menonton film India. Harga tiket yang termasuk lumayan murah saat itu, Rp. 300,- (harga tiket nonton di 21 saat itu Rp. 5.000,-). Wajar saja bioskop full house. Bukan hanya harga tiket saja yang menakjubkan, tapi ketika rol film sudah diputar dan setiap lagu didendangkan, hampir satu bioskop ikut bernyanyi, wow. Bayangkan sound bioskop yang sudah kencang kalah pamor dengan koor dadakan dari penonton. Aku heran, koq mereka bisa hafal? Apakah lagu tersebut sering diputar di radio atau karena harga tiket yang murah, jadi kita bisa sesering mungkin menonton di bioskop itu, apalagi biasanya satu film bisa bertahan sampai sebulan di bioskop tersebut.

5.      Dancing With The Soundtrack
Arisan adalah satu – satunya film yang aku nonton sampai delapan kali, saking sukanya, mengingat saat itu film Indonesia masih jarang tayang di bioskop dan Arisan menurutku film yang sangat heart warming. Setiap penonton yang terlambat masuk ke studio bioskop ketika film baru dimulai dan credit title di awal film dengan musik yang catching bergulir, pasti salah satu penonton yang telat bakal bergoyang, anehnya hal tersebut berulang setiap kali aku menonton Arisan, merasa dejavu jadinya.

6.      Pertunjukan Dalam Pertunjukan
Banyak penonton di dalam bioskop melakukan tontonan bagi penonton lainnya, what a shame, kenapa harus melakukan hal yang sifatnya privasi di ruangan bioskop. Memang suasana gelap gulita, pandangan penonton ke arah depan tetapi bukan berarti kita bisa melakukan sesuatu sesuka hati. Bioskop bukan tempat sepi, get a room!

7.      Penonton Tidur
Ketika itu siang bolong, sebelum film diputar, ada seorang yang sedang berbicara melalui ponselnya, ketika lampu dipadamkan, dia mengatakan kepada teman bicaranya, ”Sudah dulu ya, filmnya mau main, aku mau tidur.” Suaranya yang keras terdengar membuat penonton yang lain ketawa. Ya, dia membayar tiket bioskop untuk tidur, kenapa nggak pulang ke rumah saja yah? Wierd.

8.      Kongres
Aku paling suka nonton sendiri, karena biasanya kalau nonton bareng bakal berakhir jadi ngobrol bareng. Aku paling nggak suka dengan npenonton yang ngobrol di ruangan bioskop, apalagi yang spoiler menjelaskan sebuah adegan ke teman lainnya yang lelet, sangat mengganggu. Kalau mau nonton sambil ngobrol bareng mending dilakukan di rumah.

9.      Taman Kanak – Kanak
Paling menyebalkan kalau sudah menonton film animasi dan didalam bioskop banyak anak – anak, karena biasanya orang tuanya membiarkan mereka berkeliaran di dalam bioksop, kadang menggoyang – goyang kursi, berdiri di pinggir kursi sambil melihat kita. Aku suka sama anak kecil, tapi kalau sedang nonton, seharusnya orangtuanya memperhatikan anak mereka, bukan seeanknya tak peduli dengan penonton lainnya. Kalau sudah begini, siap sebenarnya yang bisa dibilang anak – anak?

10.  National Anthem
Terlambat masuk ke bioskop, bukan kebiasaanku, setidaknya lima belas menit sebelum film diputar aku sudah duduk manis di dalam studio. Aku suka melihat trailer film terbaru dan pastinya nggak mau ketinggalan melihat credit title di awal film. Sekarang aku tinggal di Manila, dan satu keunikan menonton film disini, sebelum trailer dimulai, biasanya akan dikumandangkan lagu kebangsaan Filipina, awalnya aku kaget, karena harus berdiri juga. Bagus sih tapi malas juga karena bukan lagu kebangsaan kita sendiri. Jadinya sejak saat itu aku mengatur waktu yang tepat untuk masuk ke ruangan bioskop.

Bagaimana dengan pengalaman teman – teman lainnya?

Minggu, 20 November 2011

Patah Hati

                                                        (photo courtesy of Google)
Kembali ke zaman kuliah dulu, pada suatu hari ketika mengunjungi teman yang tinggal di sebuah asrama mahasiswa. Di kamar yang tidak begitu luas dan harus berbagi dengan mahasiswa lainnya terdapat sebuah lemari tua yang sudah berada disana dari zaman baheula. Baiklah, saya tidak akan berbicara mengenai sejarah lemari tersebut. Tetapi ketika teman membuka lemari, saya melihat sebuah tulisan di bagian dalam pintu, yang bercerita tentang derita yang dirasakan karena putus cinta.

Awalnya saya tertawa geli membaca tulisan tersebut, kalau menggunakan bahasa sekarang, terlalu lebay. Tetapi saya terkejut ketika ada cerita duka dibalik kata - kata tersebut. Katanya, pria yang menuliskan kata – kata yang saya tertawakan itu sudah meninggal dunia, tepatnya bunuh diri. Dia menenggak racun serangga setelah mencurahkan isi hatinya di pintu lemari tua itu. Teman – temannya saat itu sudah berusaha sekuat tenaga berusaha untuk memuntahkan racun yang ada diperutnya. Sayang, racunnya bekerja lebih kuat, dia meninggal ketika dalam perjalanan menuju Rumah Sakit.

Siapa sih yang nggak pernah patah hati, selama manusia masih ada di dunia, penyakit kuno namun tetap eksis sampai saat ini, akan selalu menemani kehidupan. Coba perhatikan beranda di account Facebook anda, pasti tak akan terlewatkan satu haripun kata – kata galau bertebaran di salah satu status teman anda. Semua manusia alergi kalau berhubungan dengan patah hati tapi herannya bersahabat akrab kalau cinta sudah menghampiri.

Kembali lagi ke zaman kuliah (mudah – mudahan yang baca nggak bosan) salah satu sahabat dekat, cewek, pacaran dengan cowok yang dia kenal sejak SMA. Mereka terlihat tak terpisahkan, kemana – mana selalu berdua, tak jarang mereka mengambil mata kulaih yang sama. Memang nggak ada yang abadi di dunia ini, si cowok selingkuh, mencari petualangan yang baru. Awalnya kami para sahabat, sudah mengetahui perselingkuhan itu, hanya saja sungkan menyampaikan berita tak enak ini, karena ternyata temanku ini tahu bahwa cowoknya hanya bersahabat dengan cewek itu. 

Tapi pada akhirnya segala dusta sudah terendus, bau bangkai nggak akan berubah mewangi, temanku mulai melihat gejala – gejala yang aneh dari cowoknya. Tak perlu harus periksa ke dokter, karena juga nggak ada dokter patah hati, Cukup dengan kata hati dan melihat perubahan sifat, akhirnya temanku memutuskan hubungan cintanya. Kita sebagai sahabatnya mendukung seratus persen walau tak jarang menyayangkan. Ajaibnya, temanku ini sedikitpun tak pernah menunjukkan dukanya dihadapan kami, seolah – olah dia sudah biasa putus cinta, padahal mantan pacarnya itu adalah cinta pertamanya dan baru pertamak kali pacaran. 

Karena melihat kejanggalan yang tak biasa, aku bertanya resep patah hatinya tersebut. Dan aku mendapatkan sebuah jawaban yang sangat ringkas, padat namun berisi.  Begini katanya :

“Kata Mama, kalau patah hati itu, menangislah sepuasnya, berdukalah sepuasnya tapi cukup hanya satu malam saja, kalau hari baru sudah menjelang, kita harus punya semangat dan mengkoreksi kegagalan yang kemarin.”

Benar saja, setelah putus cinta, temanku itu mulai mempercantik diri, penampilannya sudah berbeda, giat mempercepat kuliahnya, bahkan dia yang duluan wisuda daripada kami semua. Hebat temanku itu, bahkan sekarang dia sudah jadi pejabat di salah satu departemen pemerintahan, mempunyai suami yang baik dan tiga orang anak yang sehat.

Begitulah seharusnya kalau patah hati, nggak perlu berlarut – larut, nggak penting semua orang tahu. Karena kita tak pernah meramal, musibah yang sedang kita alami tersebut merupakan pintu menuju jalan yang lebih baik. Berduka itu boleh – boleh saja, manusiawi, hanya jangan sampai menghanyutkan kita. Toh hidup cuma satu kali, apalagi harus sampai bunuh diri gara – gara seorang manusia yang belum tentu baik untuk kita. Ingat, hidup terlalu indah untuk kita bersedih sepanjang waktu.

Jadi nanti kalau kita berhadapan dengan yang namanya cinta, merengkuh indahnya cinta, persiapkan hati kita untuk patah hati. Sedia payung sebelum hujan, sediakan resep paling manjur yang cocok dosisnya dengan hati anda, berpikir bijak dan have fun dengan rasa sakit itu. Believe me, It shall past too.

Kamis, 17 November 2011

Oh My God!

                                                                           (photo courtesy from Google)
Aku memandang wajah tampan itu dari balik pembatas bilik ruang kerjaku, ya Tuhan, pria sesempurna itu memang bukan dongeng belaka, kini dia hadir dihadapanku, tepatnya di kantor ini, Aku mendadak kelu.
Senyumnya itu, oh dear, sinar mentari juga kalah bersaing membuat hangat hatiku. Eits wait, Ramona, Diandra dan juga Sari melakukan hal yang sama, sedang mengagumi salah satu Maha Karya Tuhan yang sedang berdiri dan berdiskusi dengan atasan kami, malu – malu penuh nafsu melirik ke arah pria itu, Jamie Ardhana, ah, menyebut namanya sudah menghadirkan getar rindu dalam diriku, mungkinkah ini yang dinamakan cinta, entahlah, yang pasti kompetisi memperebutkan Jamie, kelihatannya mulai terbuka lebar.
Sari tiba – tiba menghampiri mejaku, aku gelagapan, jangan sampai Sari tahu aku juga diam – diam bersaing dengan dirinya. Dia berbisik – bisik mengatakan sesuatu kepadaku, seolah – olah informasi ini tak perlu diketahui orang banyak.
”Jeng, si Jamie masih single, aku tadi baru nanya infonya ke HRD. Aduh, sudah ganteng, perjaka lagi.” Sari meringis sambil menggenggam kedua tangannya seperti baru saja makan sambal yang sangat pedas.
”Yes!”, aku berteriak dalam hati. ”Thanks infonya teman.” Wajahku mendadak berubah warna, merah merona.
”Ah, jangan terlalu senang dulu, mungkin saja dia sudah punya pacar.” Aku berbisik dan mencoba mematahkan semangat Sari, dalam persaingan bebas seperti saat ini, segala bentuk usaha untuk menjadi pemenang harus dimaksimalkan. Betapa jahatnya aku saat ini. Maafkan aku teman.
”Ya juga sih yah. Hm, tapi masa bodoh, sebelum janur kuning bertengger dipojokan jalan, Jamie kan bebas untuk dimilki siapa aja. Lagipula jeng, aku siap jadi Astrid.”  Sari mengerlingkan matanya dan membuatku berpikir kalau dia sedang kelilipan.
”Maksudmu?” Sumpah aku bingung dengan yang dikatakan Sari, apakah Astrid mantannya Jamie? Cewek dari mana si Astrid itu?
Sari tersenyum dan bernyanyi, ”Jadikan aku yang kedua, buatlah diriku bahagia.”
Aku berdecak kagum geleng – geleng kepala, Sari tidak main – main, ternyata perlombaan ini tak segampang yang aku kira, para sainganku juga tidak bisa dianggap remeh. Aku harus bisa memikirkan strategi yang sangat baik kali ini, jadi pemenang atau pecundang, aku tak mau jadi Astrid.
Jamie Ardhana adalah karyawan baru di perusahaan kami, sudah seminggu ini dia bekerja di divisi Marketing, ruang kerjannya berada tepat disebelah ruang kerja kami, Accounting, divisi minus cowok yang hampir sebagian besar diisi dengan para wanita melankolis dan moody.
Kehadiran Jamie bagaikan sepotong berlian dua puluh lima karat yang menghiasi cincin polos yang melingkar di jari manis, tidak akan pernah bosan untuk dikagumi setiap kali melihatnya.
”Jeng, jangan melamun aja, lihat tuh si Diandra, udah mulai sok kenal sok dekat dia sama si ganteng.” Sari mendadak kesal. Diandra sedang berbicara dengan Jamie, wanita supel itu memang selalu punya seribu alasan untuk berbicara dengan Jamie.
”Biarin saja lah Sar, ngapain juga cemburu sama Diandra, kayak gak tahu reputasinya aja. Paling juga bentar lagi kalo si Jamie udah tahu belalang kupu – kupu si Diandra, pasti dia bakal dianggap angin lalu”. Sebenarnya aku sedang menyemangati diriku sendiri, bukan Sari, aku juga sama cemburunya. Awas kamu Diandra, tunggu tanggal mainku.
Pada awal perkenalan, Jamie berbicara kepadaku dengan tatapan mata yang penuh simpati. Suaranya yang berat mampu menggetarkan hati yang lagi mati rasa karena sudah lama menjomblo. Dan yang paling penting tampilan fisik yang mirip model pria di majalah fashion mampu membuat wanita manapun jatuh cinta ketika dajak berbicara. Dia tipe pria sejati, absolutely my type, aku dengan mudah menaruh hati padanya.
Lo suka juga sama si Jamie, Jeng?” Ivan salah satu teman kami yang lebih lembut daripada wanita manapun di perusahaan kami, diam – diam memperhatikanku.
“Eh, nggak lah, biasa aja Van, not my type.” Aku berdusta.
“Halah, bohong itu dosa loh, nenek – nenek rabun juga tahu kalo lo juga punya perasaan sama anak baru itu, ya kan?” Ivan seolah – olah polisi yang sedang menginterogasiku.
“Kalo emang benar, kenapa? Kamu cemburu Bu?” Aku mencoba membela diri yang sudah mati langkah.
Ivan tersenyum, ”Kalo aku cemburu berarti aku sedang berada di alam mimpi donk.” Ivan mencubit dirinya dan tertawa.
Aku melihat Ramona berjalan menuju ruang kecil kerjaku, dan Sari membuntuti Ramona, seperti biasa, tidak mau ketinggalan satu informasi kalau melihat kami kumpul. Mereka berjalan mirip kereta api jurusan Jakarta – Bekasi. Mau apalagi sih mereka semua pada berkumpul disini?
”Senang deh rasanya melihat kalian semua sedang jatuh cinta.” Ivan tersenyum dan melanjutkan pidatonya, ”Lihat si Sari, duh, tiap saat tampil cantik dan modis, padahal dulu rambutnya selalu acak – acakan kalau sudah berurusan dengan aktiva dan pasiva. Ajeng, selalu kelihatan gugup kalo sudah berbicara dengan Jamie. Ramona, mulai sering pakai rok. Jeans nya pada kemana Bu? Dimuseumkan yah?” Ivan tertawa puas melihat kekonyolan kami.
”Sudah ah, berisik.” Aku berusaha mendiamkan Ivan yang mulai cerewet.
”Ya, sirik aja kalo lihat kita lagi berbunga – bunga.” Ramona menimpali sambil memukul pelan tangan Ivan.
Ivan tersenyum, ”Sudahlah, kalian semua tidak punya harapan untuk mendapatkan si Jamie itu.”
”Masa sih?” Sari terlihat lemas mendengar informasi tidak jelas dari Ivan.
”Kalian tahu kan.”, Ivan melanjutkan ceritanya dengan serius, ”Si Jamie, gosipnya yah, pacarnya Bu Jessica. Mereka dulu kuliah bareng di Australia dan lagipula si Jamie bisa bekerja disini kan atas rekomendasi Bu Jessica.”
Aku heran, dari mana Ivan bisa mengetahui semua ini, jangan – jangan dia hanya ingin membuat kami patah hati dan kembali pada realita. Atau pun kalau memang benar, mana bisa kami bersaing dengan Bu Jessica, sudah cantik, muda, modis, anak pemilik perusahaan pula, kaya sudah tentu.
Dulu, sering membayangkan sandainya aku adalah Bu Jessica, pasti saat ini aku sudah menikah dan memiliki suami yang tampan. Jessica sangat beruntung, bahkan pria yang aku kagumi itu pun bisa dia dapatkan tanpa usaha yang maksimal, toh, dia sudah memiliki modal.
”Jangan bohong kamu, Van.” Ramona terlihat gusar dengan mimpi buruk yang diceritakan Ivan saat ini, di siang hari pula.
”Sejak kapan aku pernah bohong dengan kalian, you are my best friends. Aku dapat info ini dari David.”
”David yang di Marketing itu?” Aku semakin penasaran.
”Ya iya lah, siapa lagi? Kemaren waktu makan siang aku menanyakan mengenai Jamie sama dia. Aku pikir aku akan mendapatkan info yang berguna untuk kalian teman – temanku, eh, aku malah mendapatkan berita tidak indah ini. Maaf.”
Aku, sari dan Ramona terlihat layu seperti kecambah yang disiram air panas. Aku merasa bersalah terhadap Sari, dia yang kelihatan paling bersemangat diantara kami, aku pula yang telah mematahkan semangatnya untuk memenangkan pertandingan. Hukum karma sedang aku jalani saat ini.
Tiba – tiba Ramona berkata, ”Masa bodoh, mana tahu Jamie tidak cinta dengan Jessica dan dia ternyata suka dengan wanita yang biasa seperti kita  - kita ini, come on girls, perjuangan belum selesai.”
”Ya, sebelum janur kuning melengkung. Pintu harapan selalu ada.” Sari mendadak bersemangat kembali seperti mendapatkan jutaan dukungan sms dari para fans di acara singing competition. Aku ikutan tersenyum, benar apa yang dikatakan Sari.
”Mari kita berkompetisi secara sehat ladies” Ramona membelalakan matanya seolah – olah ingin membuat sebuah petisi paling penting abad ini. Ivan hanya terseyum kecut, pasti dia sedang berpikir kalau kami adalah segerombolan wanita yang patut dikasihani. Memang, kami patut dikasihani, tapi oleh cinta kasih Jamie, hehe, betapa menyenangkannya hidup ini bila ada Jamie menemani.
”Ya Allah, kalian harus dengar info terbaru ini.” Tiba – tiba Diandra berdiri disamping kami, nafasnya tersengal – sengal seperti baru selesai marathon 10 kilometer. Pasti tadi dia berlari menuju ketempat kami yang sedang berkobar semangat juang meraih cinta.
”Ada apa Ndra?” tanya Ramona bingung. Sari cemas, aku apalagi, pasti Ramona akan menginformasikan mengenai pernikahan atapun pertunangan, aduh aku tidak sanggup memikirkannya, Jamie dan Jessica, dari inisial nama depan mereka saja sepertinya sudah berjodoh.
”Ya Nek, ada apa sih sebegitu hebohnya?” Ivan melipat tangannya di dada dengan tampang serius menanti berita terbaru yang akan dibawa Diandra.
”Jamie ya?” Tanya Sari lirih.
Diandra mengangguk, masih terlihat shock, aku yakin berita yang akan dia katakan sangat besar dan bakal membuat kami patah hati berbulan – bulan atau bertahun – tahun. Tiap malam akan dilalui dengan tangisan sambil mendengarkan lagu patah hati dan makan cokelat tiga batang di dalam kamar, oh Tuhan, cinta hilang lemak pun datang.
”Tadi kan aku ke kantor Bu Jessica mengantar laporan.” Diandra bercerita dengan perlahan dan kami mendengarkan dengan seksama.
”Nah, aku pura – pura bertanya sama Bu Jessica. Kapan Bu melangsungkan pernikahan dengan Jamie?” Diandra melanjutkan ceritanya dengan serius dan seksama.
”Gila, berani amat lo bertanya seperti itu sama Bu Jessica.” Sela Ivan. Ivan benar, tapi Diandra terkenal dengan kenekatannya, pasti dia tidak akan takut untuk mendapatkan informasi apapun mengenai cowok yang sedang dia incar.
Ssst, dengerin dulu.” Ramona tidak ingin kosentrasinya terganggu, seperti tidak mau kehilangan sepatah kata dari info penting yang dibawa Diandra.
Diandra menarik nafas dan melanjutkan lagi berita buruk ini. ”Anehnya, Bu Jessica malah tertawa, tidak pernah aku melihat dia tertawa sekencang itu. Aku kan menjadi heran. Nah, mungkin karena melihat keningku berkerut – kerut kebingungan. Bu Diandra mengatakan kalau Jamie sudah punya pasangan. Mereka hanya sahabat, tidak lebih.”
Dug, jantungku berdegup kencang dan hampir berhenti mendengar kata Jamie sudah punya pasangan. I hate this day.
”Siapa wanita kurang ajar itu Ndra?” Nada pertanyaanku mirip dialog sinetron stripping dan berharap semoga wanita itu adalah seorang nenek tua, setidaknya aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Jamie dari sisi usia, I wish!
”Nama pasangan Jamie adalah Daryl. Pria idaman kita itu ternyata gay, cowoknya masih tinggal di Australia dan sebentar lagi akan menyusul Jamie ke Jakarta, oh my, aku sebenarnya enggan mempercayai perkataan Bu Jessica, tapi mana mungkin juga Bu Jessica bohong. Untuk apa coba?” Diandra menutup mata, ”Gak mungkin aja kan, sia – sia segala usahaku mendekatinya.”
What? Kami shock berat, bahkan Ivan juga mendadak terdiam seperti patung raksasa di keraton Jogjakarta.
Ramona menggaruk – garuk kepalanya, rambut keritingnya terlihat naik turun berirama. Sari meneteskan air mata dengan wajah sendu keputusasaan yang sangat dalam, dan aku bingung. Mana mungkin aku bersaing dengan cowok. Diandra benar, sia - sia. Sebagus apapun dandanan kami, seseksi apapun pakaian yang kami kenakan, tidak akan mungkin menarik perhatian Jamie, aku bukan lelaki. Aku berpikir dan aku juga yakin Sari Diandra dan Ramona juga memikirkan hal yang sama, seandainya kami secantik Luna Maya, pasti Jamie tetap akan lebih tertarik kepada Nicholas Saputra.
”Serius lo Ndra?” Pertanyaan Ivan membuyarkan lamunan kami.
Diandra mengangguk. ”Bahkan Jamie sudah open dengan statusnya itu.” Diandra menambahkan.
 Tiba – tiba Jamie melintas di depan kami dan melambaikan tangannya, kami menatapnya dengan tatapan kosong, terlihat Jamie bingung dengan reaksi kami, memang tidak seperti biasanya. Kemudian Ivan berkata, ”Sorry ladies, sekarang giliranku.” Ivan merapikan pakaiannya, tersenyum dan memanggil Jamie.
Sari menggenggam tanganku, dingin, dan kami berdua saling berpandangan.
Oh my God!

Rabu, 16 November 2011

Malu Bertanya Jadi Malu Sendiri (Gara - Gara Discount)

Kalau Bulan Juni sudah nampang di kalender, biasanya saya akan bersiap – siap untuk hunting kado buat Mamak. Mungkin masih banyak yang heran dengan kata Mamak. Namun bagi yang berasal dari Medan pasti telinganya sudah tidak asing lagi dengan panggilan tersebut. Walaupun berbeda – beda cara memanggilnya tapi tetap satu tujuannya, sebutan untuk Ibunda tersayang.

Mamak berulang tahun setiap tanggal 26 Juni, nggak perlu saya sebutkan umurnya yah, yang pasti sudah tidak muda lagi, tapi Alhamdulillah masih diberi kesehatan yang baik oleh Allah SWT. 

Saya adalah tipe orang yang menyukai kejutan, asal yang tidak berlebihan dan membuat jantung berdetak kencang. Kejutan yang manis pastinya. Dan untuk ulang tahun kali ini, saya sudah berniat akan membelikan sebuah tas yang manis.

Seusai kerja, saya pergi ke salah satu mall yang ada di Surabaya, Tunjungan Plaza. Selain tempatnya yang mudah di jangkau dan strategis kalau menggunakan angkutan umum. Tunjungan Plaza atau yang sering disingkat menjadi TP memiliki beberapa toko dengan jangaauan harga yang berbeda – beda, mau murah atau mahal semua tergantung isi dompet. Dan kalau saya, pastinya selalu mengikuti pesan Vetty Verra, yang sedang – sedang saja. Kalau sedang bokek beli yang murah tapi bagus, kalau ada uang beli yang harganya terjangkau tapi berkualitas. Bukankah niat itu lebih penting, saudara – saudara?

Ternyata keberuntungan sedang berbaik hati kepada saya. Setelah keliling dua liling, ada sebuah boutique dengan brand nama buah lagi sale besar – besaran. Mau masuk saja harus antri, bahkan pintu toko juga ditutup untuk menghindari para shopper yang nggak betah antri masuk tanpa rasa malu. Saya mengangguk – angguk, bagus juga manajemennya. Tentu saya ikutan antri, nggak perlu malu sendirian, toh saya sudah tahu benda apa yang akan saya beli, tema malam itu, buy and go.

Akhirnya setelah lima belas menit menunggu, baris antrian saya dipersilahkan masuk. Dan anehnya, yang tadi rapi dan tenang antri mendadak berlarian kayak dikejar setan. Mungkin mereka nggak mau ketinggalan untuk membeli barang – barang bagus dengan harga discount. Saya pun ikut – ikutan berjalan cepat. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya melihat jejeran tas diatas meja tersusun rapi dengan tag harga yang besar – besar terikat pada setiap tas.

Layaknya seorang ahli, saya memperhatikan tas tersebut satu persatu, bagus – bagus ternyata. Saya perhatikan tiap tas yang mencuri hati saya, warna, bentuk, corak dan anehnya tag tersebut tidak mencantumkan harga. Tiba – tiba salah satu Sales Lady mendekati saya dan bertanya,

Sales Lady : Mau mencari apa? 
Saya         : Mau lihat – lihat dulu Mbak. 

Biasanya kalimat singkat tapi pemungkas tersebut mampu membuat Sales Lady dimanapun segera menjauh. Karena saya adalah salah satu orang yang tidak suka kalau berbelanja diikuti sama Sales Lady.

Masih kebingungan mau menentukan tas mana yang akan saya beli, Sales Lady tersebut datang lagi, anehnya kali ini berasama Satpam. Satpam tersebut menanyakan hal yang sama kepada saya, 

Satpam : Mau mencari apa Mas? 

Bingung dan bengong, takjub kenapa Satpam berubah menjadi Sales Man, sambil membetulkan kaca mata yang mulai turun dari batang hidung, saya pun kembali menjawab,

Saya     : Mau lihat – lihat dulu Pak.
Satpam : Kalau mau lihat tas di sana Mas, kalo yang ini tas pengunjung. 

OMG, malang tak dapat ditebak, untung pamannya Donal Bebek. Dengan wajah merah padam menahan malu saya mengucapkan kata maaf, saya kira ini tas yang mau dijual. Saya buru – buru berjalan menuju tempat yang ditunjuk Satpam, setelah pura – pura melihat saya langsung cabut dari toko itu.

Untung saja mereka masih percaya kalau saya memang mau membeli tas. Untung saja saya tidak kegatelan membuka tas dan melihat keadaan isinya. Akibat tak mau bertanya, saya tidak menyadari kalau saya memang sendirian di area penitipan tas tersebut, tidak menyadari kalau tag yang ada merupakan nomer penitipan. Tapi salah mereka juga, kenapa tempat penitipan tas tidak ada penjaganya, saya juga tidak melihat sebelumnya ada yang menitipkan tas disana.

Setelah kejadian tersebut, saya mengurungkan niat untuk  membeli tas, pulang saja ke rumah, dilanjutkan besok. Untung saya orang Indonesia yang masih merasa beruntung karena tidak dibawa ke kantor satpam dan diinterogasi. Nggak kebayang kalau beredar foto saya disebuah harian kriminal dengan judul, pria kantoran maling tas. Ah, memang malu bertanya membuat kita jadi malu - maluin.

(photo courtesy from Google)