Sepi, itu adalah namaku. Jangan heran, aku sendiripun tidak mengerti mengapa orangtuaku sangat tega memberi nama seperti itu. Sepi Navius Hutapea, pria batak dari keluarga yang sangat ortodok. Kalau menurut cerita Mama, aku lahir dimalam ketika angin pelan berhembus, sepi, jangan kan suara kucing mengeong atau anjing menyalak, jangkrik pun tidak terdengar berderik. Bahkan, masih menurut cerita Mama, dia tidak berteriak ketika mengeluarkan aku dari rahimnya dan suara tangisku pun lirih tidak menggema.
Nama adalah doa, itu tidak pernah kupungkiri. Aku tumbuh menjadi anak yang pendiam. Aku tidak pernah tertawa lepas kalau lagi senang ataupun berteriak kencang mengadu ketika kesakitan. Terkadang aku berharap namaku adalah Ramai Navius Hutapea, pasti sangat menyenangkan. Hanya angan – angan saja memang, aku juga tidak mungkin protes ketika namaku dicatatkan pada akte kelahiran. Menyesal tidak akan pernah mengembalikan waktu, menyesal tidak akan pernah membuat aku menjadi anak yang ramai.
Tapi ada untungnya menjadi anak yang pendiam, setidaknya Mama sangat perhatian. Kecuali Papa, baginya anak lelaki haruslah lantang bersuara, gaduh berteriak, berlari kesana kemari, belajar dan mencari tahu dunia ini. Bukan hanya duduk diam melamun. Papa tidak mengerti, aku juga belajar mencari tahu tentang dunia ini dibalik diam.
Aku maklum akan keinginan Papa, aku tidak pernah menyalahkannya, dia hanya menginginkan kelak nantinya aku akan dapat bertahan melawan kerasnya kehidupan ini. walau sesuatu yang keras bisa juga dihadapi dengan benda yang lunak, karena karang saja bolong diterjang air laut.
Seharusnya Mama sudah berada disini satu jam yang lalu. Kami berencana membeli kado ulang tahun untuk Papa. Kejutan yang indah nantinya. Aku juga sebenarnya ingin memberikan kejutan, tapi aku tidak tahu apa. Aku tidak punya ide menarik yang membuat orang lain berdecak kagum. Hidupku hampir bisa dipastikan sangat membosankan.
Sampai ketika saat Sylvi datang dikehidupanku. Tepatnya ketika dia berada di depan kelas. Gadis berambut panjang sebahu itu baru saja pindah dari Padang karena ayahnya yang bekerja di kepolisian harus bertugas di Medan. Aku tahu, dia terpaksa duduk denganku karena bangku di sampingku memang selalu kosong. Tidak ada satu anakpun yang sudi berteman denganku, bagi mereka aku tidak ada bedanya dengan batu. Selalu diam tak bergerak, apa yang bisa mereka dapatkan kalau berada disampingku, bisa – bisa mereka ketularan penyakit diam yang akut.
“Hai, aku Sylvi Mariani”, tegurnya mencairkan suasana sambil mengulurkan tangannya agar kami bersalaman.
Bukankah dia tadi sudah mengenalkan dirinya di depan kelas. Aneh.
Aku mengulurkan tangan dengan malas, bersalaman. “Nama kamu?” dia bertanya dengan antusias. Padahal menanyakan namaku bukanlah sesuatu yang sangat penting menurutku.
“Sepi Navius Hutapea”, jawabku sambil tersenyum.
“Kamu serius?” matanya terbelalak keheranan, “Nama depan kamu benar – benar Sepi?”
Kadang aku heran dengan diriku sendiri, apa susahnya menjawab ya. Tapi aku malas, nanti kalau dijawab dengan kata ya, pasti selanjutnya dia akan bertanya, koq bisa sih? Nama depanmu unik ya, atau setidaknya aku akan mendapatkan komentar yang membuatku trauma seperti yang pernah diucapkan guruku ketika SMP dulu,
“Hah? Sepi namamu? Yang teganya orangtuamu itu, atau mereka punya kenangan spesial dengan namamu, mungkin saja ketika kau masih di dalam kandungan, ibumu senang pipis, makanya kau dinamakan Sepi, singkatan kayaknya namamu. Hahaha.” Dan masih, perkataan guruku itu selalu menjadi mimpi buruk bagiku.
“Koq bisa?
Nada suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku.
Kali ini aku akan mengeluarkan jurus mautku, pura – pura tidak mendengar dan kembali diam membaca buku. Aku lelah dengan pertanyaan itu dan itu terus, dulu ketika aku kecil, aku masih mau menjelaskannya, tapi seiring dengan bertambahnya usiaku, aku berharap Mama selalu ada disampingku untuk menjawab pertanyaan yang terus berulang.
Karena tidak mempedulikan pertanyaan yang diajukannya, dia merasa malu dan pura – pura melihat ke depan kelas. Aku memang jahat, tapi tidak berniat seperti itu. Ah, bodoh amat, mengapa juga harus memikirkannya. Paling seminggu lagi dia akan bosan dan pindah mencari bangku yang bersedia didudukinya.
Sebulan sudah berlalu, tetapi dia masih betah duduk disampingku. Aku juga heran, apakah dia tidak sadar kalau aku sangat membosankan. Mungkin dia sudah lelah dengan hiruk pikuk dunia, tapi yang aku tahu dia selalu berusaha ramah terhadapku. Atau jangan – jangan wanita ini sudah gila, kenapa juga aku harus peduli. Aku akan mengikuti apa maunya.
Sylvi memang ramah, selalu menyapaku, mengajakku berbicara ataupun menawarkan kue yang selalu dibawa dari rumah. Mungkin ibunya gemar memasak atau Sylvi senang makan, ntahlah, untuk apa juga aku ingin tahu, semakin sering aku memikirkannya, semakin peduli aku dengannya.
Sylvi curhat kalau dia dulunya gendut, dia berusaha mati-matian untuk diet dan sukses terkapar di rumah sakit sampai dua minggu. Anehnya, dia malah malas makan setelah sakit, sehingga tidak perlu diet lagi. Cerita yang konyol menurutku, kenapa tidak ikutan senam fitness saja seperti cewek – cewek lainnya. Tidak perlu menderita tapi hasilnya lumayan maksimal. Aku tidak mengerti wanita dan tidak akan pernah.
Sudah tiga bulan, dan dia masih betah duduk disampingku. Sylvi pernah berkata kalau dia senang menceritakan tentang hal pribadinya kepadaku, menurutnya aku ini hampir mirip dengan catatan harian, hanya saja aku punya mata, hidung, telinga dan tentu saja bernafas. Aku senang mendengarnya. Yang akhirnya diselesaikan penjabaran mengenai diriku dengan kata – kata yang membuat pipiku merona.
“Walaupun kamu berusaha menghindar, pura – pura tidak mendengarkan, aku tahu pasti kamu pasti menyimak setiap kata yang aku ucapkan, hm, setidaknya, kamu tidak akan bercerita kepada orang lain hal – hal yang aku katakan. Kamu bukan toa kan?”.
Dan nada rindu pun mulai mengalun merdu dihatiku.
Mama belakangan ini sering menggodaku, awalnya karena aku menerima telepon dari Sylvi yang sebelumnya diangkat oleh Mama, gawat, dari mana dia tahu nomer teleponku. Papa tersenyum kecil, pasti dia sedang berpikir kalau anaknya yang kurus ini sudah menjadi lelaki sejati, mulai mengenal lawan jenis. Bahkan Mama sudah mulai berfikir terlalu jauh dengan mengatakan ingin punya banyak cucu.
Baru dapat telepon saja Mama sudah berpikir yang bukan – bukan, apalagi kalau Sylvi bertamu ke rumah, mungkin Mama akan berpikir dimana nanti cucu – cucunya harus dikuliahkan. Anehnya aku malah berharap Sylvi datang kerumahku.
Semua bentuk perhatian yang diberikan Sylvi membuatku jadi berubah, aku mulai menyukai hal – hal yang dulu sangat aku benci. Aku mulai menjadi anak yang rapi, menjadi pria yang mudah tersenyum, masih tetap pendiam, tapi lebih hidup kata Sylvi. Aku senang dengan pujiannya. Tidak sadarkah dia, karenanya aku menjadi lebih hidup. Sylvi bagaikan tabung oksigen yang selalu membantuku menemukan pengalaman hidup yang baru, penuh warna, tidak pernah merasa sepi lagi. Cahaya hidupku. Selamat tinggal Sepi yang dulu.
Aku merasa kedinginan saat ini. Aku lupa lagi membawa sweater, kemana ya Mama, sepertinya aku mau sakit. Rasa dingin ini membuatku kalut dan lupa dimana sekarang aku berada, kalau saja bukan karena Mama, aku tidak mau berada disini.
Aku melihat Sylvi satu jam yang lalu, bertegur sapa, dia mengenalkan seseorang, pria yang matanya selalu berbinar ketika memandang ke arah Sylvi.
“Sep, kenalkan ini Zefri”.
Sylvi tersenyum, wajah manis yang selalu membuatku rapuh itu kini sedang memandang wajah pria itu dengan tatapan yang sangat hangat.
“Aku Sepi”, ucapku dingin dan ketus.
“Zefri. Aku sudah tahu siapa kamu. Sylvi selalu bercerita tentang kamu.”
Aku tersentak, menyadari kalau bukan satu – satunya diary Sylvi, masih ada Zefri yang mendengarkan segala ceritanya. Sialan, cemburu dan aku marah, mulai merasa ditinggalkan. Pasti Zefri lebih dari sekedar diary bagi Sylvi. Zefri tidak bisa dibandingkan dengan diriku. Dia adalah anak lelaki yang dirindukan Papa. Dan aku bukanlah lelaki yang diharapkan Sylvi untuk menonton bersamanya.
Mendadak merasa sakit, aku menyalahkan Sylvi sebagai penyebabnya, aku harus pergi sekarang juga. Aku mengingat – ingat seluruh cerita Sylvi yang pernah dia bilang kepadaku. Tidak pernah ada satu nama Zefri yang pernah dia katakan. Apakah aku melewatkan sesuatu? Tidak, aku memang pendiam tapi bukan pelupa.
“Syl, aku pergi dulu ya, aku ada janji dengan Mama mau belanja”.
Tanpa menunggu persetujuannya aku berlalu. Memang kelihatan sangat tidak sopan. Tapi tidak mungkin bisa bersikap sewajarnya dalam situasi seperti ini. Aku tahu, Sylvi kelihatan sedih dengan perlakuanku, tapi apakah dia tahu aku akan sakit kalau mencoba bertahan berbicara bersamanya.
Sebenarnya aku tidak boleh seegois itu, bukankah Sylvi adalah wanita yang telah mengusir rasa sepiku. Saat ini aku merasa seperti orang pesakitan, pendosa besar. Senin nanti Sylvi pasti akan pindah dari bangkunya dan mencari meja yang lain, dia pasti menganggapku aneh. Aku bukan pacarnya. Aku bukan siapa – siapa baginya, hanya teman satu meja.
Aku mulai ketakutan, merasa sunyi kalau dia tidak mau lagi bercerita kepadaku. Perutku kaku, mual, aku akan mencari toilet dan mengeluarkan seluruh sakit hatiku. Aku harus melakukan sesuatu agar Sylvi tetap mau menganggap aku adalah sahabat yang dibutuhkannya. Saat ini juga, tidak boleh ditunda sedetikpun.
“Syl, ini aku belikan cappuccino milkshake untukmu dan Zefri”.
Aku memberikan dua gelas plastik bening dengan senyum sandiwara setulus mungkin, pria bajingan itu terlihat sedang antri untuk membeli tiket film yang akan mereka tonton.
Wajah manis itu tersenyum manis sekali seperti bidadari, aktingku ternyata sukses besar. Sylvi, seandainya saja kau tahu kalau aku lebih pantas menemanimu nonton saat ini dan bukannya pria sialan itu. Dan jika saja kau tahu aku sangat menyayangimu.
“Terima kasih ya Sep, kamu memang teman terbaik yang pernah ada.”. Sylvi menyentuh tanganku. Aku tersenyum, kali ini bukan sandiwara, aku memang yang terbaik bagimu, sayang.
“Nggak masalah Syl, maaf tadi aku agak kurang bersahabat, mungkin karena kepalaku agak sedikit pusing.”, aku mengusap – usap kepalaku.
“Kamu sakit Sep?”, tanya Sylvi cemas. Nada peduli itu yang selalu ku rindu.
“Ah, nggak koq Syl, biasa lah, pusing nungguin Mama dari tadi.”, aku mencoba tidak terlihat membutuhkan perhatiannya.
“Koq nggak ditelpon saja ke HP Mamamu?”
“Sudah Syl, tapi HP Mama dari tadi tidak aktif. Hm, aku pergi dulu ya Syl, selamat nonton ya.”
Aku harus cepat pergi dari sini kalau jantungku tidak mau pecah.
“Terima kasih ya Sep, sampai ketemu besok”, Sylvi melambaikan tangannya dan mengerlingkan matanya. Aku cepat – cepat melarikan diri.
Semua sudah baik seperti semula, Sylvi ternyata masih peduli kepadaku. Rencana berjalan lancar seperti yang aku perkirakan. Sylvi tetaplah milikku. Perutku bertambah kaku, dadaku sesak merasa hampa dan aku pun mulai menangis.
Rasa mual yang sangat hebat membuatku lemas, rasanya bagai ditarik oleh kawat duri. Kesakitan, Terus memegangi perutku, aku menangis, meringis pelan tak ingin ada yang tahu. Racun tikus yang baru aku makan mulai bereaksi di perutku, aku tidak mau memuntahkannya, biar saja bersemayam di perutku. Keringatku mengucur dengan deras, pucat, pelataran parkir terasa hening. Hitam, dan aku pun terjatuh.
Aku tidak menyesal, memang aku ingin mengakhiri hidupku. Aku bukan siapa – siapa bagi Sylvi dan aku juga tidak akan bisa hidup tanpa dia. Aku puas, setidaknya Senin nanti aku tidak perlu mendengarkan penjelasan Sylvi, siapa si Zefri itu, hal romantis apa yang telah mereka lakukan di dalam bioskop, mati adalah jalan keluar yang terbaik.
Aku sudah tinggal nyawa. Di sebuah Rumah Sakit aku melihat Mama terus menangis sambil memeluk Papa. Wajah Papa merah padam, tubuhnya bergetar menahan tangis. Sebuah kejutan besar, kematianku, hadiah ulang tahun untuk Papa. Tak pernah aku bayangkan akhirnya aku bisa juga membuat sebuah kejutan.
Disudut ruangan aku melihat Sylvi, gadis manis itu terdiam pucat. Aku tak tahu perasaanku saat ini. Masa lalu yang menunggu waktu. Bahkan belum tahu tujuan selanjutnya. Aku memandang dengan penuh harapan sayu, kembali mencatat dan membuat peta keindahan wajahnya agar bisa kubayangkan kembali ketika menutup mata. Aku ingin memeluknya.
Sylvi masih terdiam tanpa ekspresi, lebih pucat dari biasanya, tetapi masih saja manis. Ingin sekali aku membelai wajahnya dan memegang tangannya, berbisik mengatakan aku cinta. Hal yang kini aku sesali, keberanian tumbuh setelah aku bahkan tak membutuhkannya. Aku selalu merindukan Sylvi, bahkan ketika aku memandang wajahnya.
Aku membuka bungkusan racun tikus itu dengan perlahan, ada sedikit keraguan, tapi sakit hatiku menang dan logikaku kalah. Hari ini atau selamanya menjadi pecundang. Aku mengunyah butiran – butiran racun tikus dengan perlahan, pahit, tapi nanti rasa itu akan hilang, racun memang obat terbaik untuk menghilangkan pahitnya patah hati.
Seorang wanita paruh baya berteriak histeris. Semua orang berlari mendekat hendak menolong, menyangka kalau Ibu tersebut dirampok. Tapi mereka hanya menemui jasad terbujur pucat diatas lantai dingin, takut dan prihatin. Ada yang mencoba memberikan nafas bantuan, menggerak – gerakkan tubuh kaku sambil berteriak, ”Bangun”. Sia – sia.
Lambung Sylvi yang lemah membuat racun tikus sangat cepat bereaksi menyebar di peredaran darahnya. Melumpuhkan saraf dan menghentikan denyut jantungnya. Rencanaku berhasil, minuman persahabatan yang berisi racun membuat Sylvi kini tak bernyawa.
Tapi Zefri sialan itu ternyata dapat diselamatkan. Dia duduk lemas diatas kursi roda, seharusnya dia mati saja dan membusuk di neraka. Bercerita kalau awalnya Sylvi merasa perutnya lagi bermasalah, mual, dan pergi ke toilet sendirian. Tidak ada yang tahu kematian Sylvi di dalam toilet, tidak ada yang menolongnya ketika dia meregang nyawa. Karena semua orang sangat sibuk menyelamatkan pria bajingan itu yang muntah digelapnya ruang bioskop. Tapi aku bahagia.
Aku tidak menghiraukan tuduhannya kepadaku, biang semua duka yang terjadi saat ini. Yang paling penting adalah Sylvi dan aku, akan berkumpul kembali, tidak ada yang akan mengusik, abadi. Di ujung cerita yang akan aku masuki nantinya, tempat menumpahkan segala isi hati, aku akan memandang puas wajah manisnya. Aku tahu Sylvi sedang menunggu disana. Tak akan ada benci, hanya cinta yang akan selalu dibicarakan.
Sebuah cahaya menarik dengan sangat kencang dan cepat. Aku merasa senang, saat yang aku nantikan. Sylvi, hanya kita berdua saja. Aku sudah tidak sabar ingin memelukmu. Aku yang akan segera memilikimu. Cahaya itu semakin terang dan menyilaukan mata, pasrah, tubuhku semakin ringan, berharap ingin segera cepat sampai.
Tiba – tiba semua berhenti, aku perlahan membuka mataku. Kabur. Hening dan dingin. Aku menduga – duga, apakah ini yang dinamakan surga? Ternyata surga sama sepinya dengan perasaanku. Dibalik kabut aku melihat ada sebuah bayangan. Aku yakin Sylvi ada diujung pandanganku. Hatiku damai.
Kedua tangan Sylvi menyentuh lenganku. Aku meraih jari – jari lembut miliknya dan berusaha sekuat tenaga menggenggamnya. Sayang, apakah kau juga sangat merindukanku? Aku menangis haru, apakah kamu juga sudah tidak sabar bertemu denganku yah? Aku mendekat dan mendekapnya. Sayup terdengar pelan suara yang sangat aku kenal itu ditelinga.
“Sepi, anakku, jangan lagi kau tinggalkan Mama yah.”
Tubuhku gemetar dengan hebatnya, aku tersadar, kabut itu seketika lenyap seiring dengan berlinangnya air mataku. Aku sedang memeluk Mama bukan Sylvi. Secepat mungkin aku melepaskan dekapanku untuk Sylvi. Aku mulai menitikkan air mata kembali, dadaku yang sesak terguncang hebat. Aku meronta dan menghempaskan tubuhku diatas tempat tidur. Kemudian aku berteriak untuk pertama kalinya.
“AKU INGIN MATI”.



