Rabu, 21 November 2012

Secangkir Cinta Espresso

Aku tidak memesan espresso untuk pertama kalinya, walau pelayan mondar mandir dihadapanku. Aku ingin mejaku kosong, sama seperti isi hatiku saat ini. Biasanya aku selalu memesan kopi kesukaanmu, pelan – pelan akan aku hirup aromanya yang mengingatkanku padamu. Tak lama kemudian wajah manismu akan hadir disela – sela asap tipis yang menari diatas cangkir putih, dan senyum tipis itu akan melengkung indah bagaikan busur panah yang siap menghujam jantung hatiku, dan kamu selalu berhasil.

Sumpah, aku kangen kamu. Kamu ada dimana? Apa sedang berusaha menggapai mimpimu, hingga tak sempat memberi kabar padaku? Atau sibuk dengan cowok lain sehingga lupa padaku? Kamu memang kejam tapi apa daya, aku masih dan selalu kangen kamu. Aku tahu kamu masih disana dan akan selalu ada diotakku, mengganggu konsentrasiku ketika belajar, menyebrang jalan bahkan ketika berdoa. Kamu memang nakal, tapi aku suka kamu, aku nggak pernah punya niat melupakanmu.
Aku sebenarnya nggak suka kopi, tapi kamu selalu bilang kalau kopi adalah candumu, teman kalau harus belajar sampai larut malam ketika musim ujian tiba. Aku ingin menjadi candumu. Sayang keinginanku itu tak terkabul. Buktinya kamu mulai melupakanku. Dimana sih kamu manis? Jangan suka bermain rahasia – rahasiaan denganku please, aku nggak betah merangkai puzzle. Dengan cara apa aku harus membuktikan kalau aku menyayangimu? Apa butuh sebuah surat resmi dari kelurahan? Atau kalau perlu aku akan pergi ke notaris sekarang, untuk mematenkan hatiku hanya milikmu seorang. Mungkin terdengar gombal, tapi percayalah manis, aku tidak pandai mengumbar kata – kata.
Di café ini  setahun yang lalu, apa kamu masih ingat, saat itu kita berdua duduk disudut mencari sepi. Hari ulang tahunku, kamu memberi kejutan kecil yang paling manis yang pernah aku dapatkan. Kamu mengeluarkan sebuah kue kukus yang kamu beli di pasar nitip pembantu ketika dia belanja. Aku tertawa, kamu marah, jujur aku ketawa bukan karena kue kukus yang berwarna hijau itu, tapi karena idemu yang lucu. Setelah aku membujukmu, sebuah busur indah itu kembali melengkung diwajahmu.
Sederhana, itu tema ulang tahunku saat itu, kamu yang memilih. Katamu kita lebih mengingat hal – hal yang sederhana ketimbang sesuatu yang extravaganza. Memangnya kamu tahu apa artia extravaganza, tanyaku saat itu, kamu jawab dengan senyuman yang diikuti dengan gelengan pelan. Kita tertawa, keberadaanmu saat ini adalah kesederhanaan yang extravaganza bagiku. Semua terasa lengkap, perhatianmu, senyummu, kue kukus hijau dan sebatang lilin yang siap aku tiup, huffpp. Make a wish donk, katamu. Jujur aku bingung harus mau minta apa, karena yang aku inginkan hanyalah kehadiranmu disisiku, dan itu sudah terkabul. Tapi saat ini aku menyesal, kenapa dulu aku tidak berdoa untuk kehadiranmu selalu ada untukku, hari itu dan selamanya, tapi aku tidak bisa mengembalikan waktu.
Oh, sayang, seandainya kamu ada disini, pasti akan aku peluk selamanya dan tak akan pernah kulepas lagi. Biar saja orang mau berkata apa, mereka juga nggak mengerti bagaimana perasaan hatiku terhadapmu. Dengan langkah pelan aku mulai beranjak dari singgasana kita, setahun yang lalu dan semua masih tampak seperti kemarin. Bayangmu seolah - olah tak mau pergi dari mataku, selalu menggoda genit sanubariku.
Hari ini cuaca masih berduka, hujan, sama seperti perasaanku. Awan hitam gelap dengan kilatan petir yang sesekali menyapa langit, menambah kelam sore menjelang malam. Aku membuka payung dengan perlahan, ah, untuk apa? Aku mengurungkan niatku, aku mau bermandikan hujan. Mana tahu dengan guyuran air hujan aku bisa melupakan dirimu, walau aku rasa itu mission imposible, tapi patut dicoba. Orang yang dilanda rasa rindu kadang sukar dimengerti, aku bahkan susah mengerti apa mauku saat ini.
Setahun yang lalu semua begitu indah, semua terasa begitu sempurna. Tapi mendadak kebahagiaan itu ditarik dari kehidupanku? Yah, sejak kau tak pernah bisa aku hubungi, hari – hariku mendung. Terakhir kali aku mengingat senyum itu, ketika aku mengantarmu sampai ke rumah. Terima kasih yah, kataku saat itu. Kamu hanya tersenyum. Besok kita jalan lagi? Tanyaku berharap. Kamu hanya mengangguk. Walau anggukanmu pelan tapi efeknya dahsyat memenuhi rongga hatiku, hangat. Aku tahu masih ada kamu esok hari ketika aku memulai hari. Masih ada kamu yang akan tersenyum ketika aku membutuhkan keceriaan. Masih ada kamu yang akan menemaniku melakukan hal – hal yang konyol. Mencari sudut dunia untuk kita diami dan berbagi kesunyian dengan canda kita yang mungkin tak dipahami orang lain.
Kenapa aku harus mengingat dia lagi yah, untuk apa coba? Tapi mau dilupakan juga susah, ya sudah lah, let it flow. Aku mencoba mengalihkan pandanganku, kulihat jendela café yang baru saja aku tinggalkan, aku mengucek kedua mataku, ada kamu disana, sayangku, mentari bagi gelap hariku. Aku perlahan mendekat, membenarkan penglihatanku yang kabur karena terpaan hujan. Itu memang kamu, tapi senyum itu tidak ada disana, ah, untuk apa aku peduli. Selama ini juga kamu tidak pernah mempedulikan aku. Tapi mengapa aku tidak melihatmu berlalu tadi? Apa ketika aku sibuk perang dengan perasaanku? Tak penting untuk dibahas, yang pasti aku masih rindu dan akan selalu rindu. Dan menatap wajahmu saat ini adalah kebahagiaan bagiku.
Kamu tak melihat kearahku, walau aku sedang memperhatikan wajahmu. Kamu hanya terdiam memperhatikan sebuah foto dan sibuk menghapus airmata. Apa yang kamu tangisi sayang? Aku penasaran. Tiba – tiba saja wajahku pucat dan hatiku panas tak karuan. Foto yang sedang kamu perhatikan hingga tak merasakan kehadiranku adalah foto kita berdua. Official photo setelah dia mau jadi pacarku. Ternyata kamu masih mengingatku dan pastinya mengingat cinta kita. Aku tak mau kehilanganmu lagi.
Aku berlari untuk masuk agar menemuinya. Aku akan menjadi kejutan kecil bagimu. Kali ini tidak akan ada kata berpisah. Aku pastikan itu sayang, yang ada hanya masa depan aku dan kamu. Hanya ada cerita kita berdua. Babak baru bagi awal drama cinta kita, lupakan yang lalu, saling berpelukan dan berdamai. Ah, aku mulai membayangkan indahnya hari esok.
Tapi siapa pria itu? Yang membawakan kamu secangkir espresso panas. Apakah dia pria spesial yang baru, yang telah mengganti kedudukanku dihatimu? Candu barumu? Pria yang membuat senyum itu kembali melengkung? Aku marah, kali ini benar – benar marah. Untuk apa kamu membawa foto itu kalau kamu ternyata bersama pria lain. Kamu memang tidak pernah menghargaiku, bahkan ketika aku tidak berada disampingmu. Lebih baik aku pergi dan menghilang, ya aku akan menghilang selamanya untukmu. Aku akan berlalu, biar saja larut dalam derasnya hujan dan gelapnya malam.
Pengunjung café terkejut melihat pintu tiba - tiba terbanting kuat, dua lonceng kecil yang ada disudut pintu berbunyi tak beraturan. Seorang pelayan memastikan pintu tertutup dengan rapat. Angin memang membuat semua yang kuat terlihat lemah. 
Andi menatap wajah Irma dengan penuh perhatian.
“Jadi disini kamu sering menghabiskan waktu bersama Iwan setahun yang lalu sampai berjam – jam?”
“Ya Ndi, biasanya kami hanya diam, tertawa, ngobrolin hal – hal yang sepele. Yang penting temanya harus selalu bersama.”
Irma menjawab sambil sesekali menghapus airmatanya, melihat foto itu kembali dan menghela nafas, menguatkan dirinya.
“Kamu kangen sama Iwan?”
Irma menjawab pertanyaan Andi dengan tangisan, “Seandainya kami tidak menerobos hujan malam itu. Seandainya kami lebih lama duduk disini.”
“Sudahlah Ma, penyesalan itu nggak akan bisa memutar waktu kembali. Nggak akan bisa membuat Iwan hidup kembali.”
Irma mengangguk pelan. Kemudian Andi menggenggam tangan Irma dan mengambil tissue mengeringkan wajah Irma yang basah akibat tangisnya. Irma tersenyum.
“Bagaimana Ma, kursi rodanya sudah nyaman?”