Sumi terdiam, pikirannya kalut, tak tahu dosa apa yang telah dia lakukan. Jangankan bermimpi, membayangkannya saja tidak pernah. Pagi tadi sebelum menyapu ruang tamu yang luasnya hampir sama dengan rumahnya di kampung, Sumi menerima pesan singkat. Biasanya dia tidak memperdulikan bunyi telepon genggamnya ketika sedang bekerja. Sumi penyungkan, walau sang majikan tak pernah mempermasalahkannya. Tapi kali ini seperti ada dorongan kuat di hatinya untuk segera merogoh sakunya, mengambil telepon genggam mungil murah yang dia beli tiga tahun lalu dan membuka kotak masuk. Ada sebua pesan dari suaminya.
Sumi mendadak kuatir, takut kalau menerima berita buruk. Tak biasanya suaminya berkirim pesan singkat. Selalunya mereka akan mengobrol pada malam hari ketika operator telepon menawarkan tarif hemat disela –sela kelelahan Sumi. Tapi suara tawa dan canda suami Sumi seperti obat mujarab yang mampu mengusir rasa letihnya. Waktu satu jam kadang tak terasa apabila mereka melepas rindu. Apalagi kalau suaminya sudah mengucapkan kata kangen, airmata Sumi meleleh seperti es krim yang lupa dimasukkan ke lemari pendingin dan mencair tak karuan.
Biasanya seusai itu Sumi akan merasa berdosa karena telah meningggalkan suaminya dengan alasan ingin memperbaiki ekonomi. Sumi memang hanya lulusan SMP tapi pemikirannya jauh melampui lulusan SMA. Sumi tak mau menderita berkepanjangan, apalagi mewariskan kemiskinan untuk anak – anaknya kelak. Tekadnya, kalau bukan dia yang mengubah nasibnya sendiri, tak akan ada yang pernah mau peduli dengan orang sepertinya. Hidup ibarat keramik, rapuh sekaligus rumit. Tergantung kita yang mau membentuknya menjadi apa. Nasib bukan untuk diratapi dan diterima apa adanya tapi harus diperjuangkan.
Sumi sudah memperjanjikan di awal perkenalan dengan Tarno, pria yang hendak menyuntingnya ketika itu. Sumi harus bekerja di Malaysia. Saat itu Sumi menggadang – gadang kalau gaji yang akan dia dapatkan nantinya akan diubah menjadi sebuah rumah dan tabungan untuk menjamin pendidikan anak – anaknya nanti. Tarno mengangguk – angguk dengan tatapan kagum ke arah Sumi. Tarno mengatakan tak salah pilih calon istri. Sumi lanjut mengatakan lebih baik dirinya yang harus jauh bekerja di Negara orang lain, tenaga wanita lebih banyak dibutuhkan ketimbang laki – laki. Tarno mengiyakan dan Sumi tersenyum, ia pun merasa tak salah pilih calon suami.
Sebulan setelah menikah, Sumi berangkat ke Malaysia. Semua dokumen yang dibutuhkan sudah siap, Sumi juga sudah membekali diri dengan sedikit kemampuan mengucapakn beberapa kata dalam Bahasa Inggris. Walau mungkin masih banyak salahnya, Sumi yakin dengan berjalannya waktu, kesalahan bisa diperbaiki. Sumi bukan hanya ingin merubah nasib pergi ke Malaysia, dia juga ingin belajar, biar kelak dia bisa bernyanyi lagu barat dengan anak – anaknya.
Sumi menangis tersedu – sedu, Tarno memeluknya dengan erat, seperti tak rela Sumi pergi mengadu nasib di Malaysia. Tarno berulang kali mengecup kening Sumi, seakan – akan kecupan itu akan menjadi mantera guna yang akan melindungi Sumi disana. Tangisan Sumi semakin menjadi - jadi, yang semula hanya isakan pelan kini menjadi raungan. Berat memang, tapi apa hendak dikata, semua sudah direncanakan dan Sumi adalah tipe perempuan yang pantang berkata mundur.
Ketika Sumi harus masuk ke dalam ruang tunggu di bandara udara. Suaminya melambaikan tangan, mata Sumi bengkak dan berulang kali dia menyeka mata dan hidung dengan selembar tissue tipis yang dibelikan suaminya. Sumi tak tega melihat ke arah Tarno dan kedua orangtuanya. Dia tak mau jatuh pingsan dan harus dipapah orang ramai. Kali ini Sumi melemparkan senyumnya walau airmatanya masih jatuh tak berkesudahan.
Sumi membaca lagi pesan singkat pertama dari suaminya itu, “Sumi istriku, aku mau minta maaf karena aku telah melakukan kesalahan. Aku berselingkuh.”
Sumi bingung,
“Aku mengerti kalau kepergianmu ke Malaysia untuk meraih impian kita berdua, tapi aku kesepian.”
Sumi kelu.
“Maafkan aku Sumi.”
Sumi merasa dunianya berputar cepat, dia seperti orang mabuk. Ingin menangis tapi tak bisa. Dadanya sesak, jantungnya berdegup keras. Sumi tak pernah mempercayai kata – kata suaminya itu. Dia mulai memikirkan, siapa wanita yang telah mengisi hari – hari sepi suaminya? Apa yang telah mereka lakukan? Bagaimana mereka berkenalan? Apakah saat Tarno mengatakan kangen berat, wanita itu ada disampingnya. Sumi menduga – duga dan terbakar cemburu.
Sumi murung, tubuhnya lemas, bahkan untuk mengangkat sapu saja tangannya tak bisa. Surti mencoba untuk memahami, tapi otaknya tak mampu berpikir. Dia merasa selama di Malaysia tak pernah melirik pria manapun, apalagi sampai jatuh cinta. Bagi Sumi saat itu suaminya adalah makhluk sempurna yang melengkapi rongga kosong dihatinya. Ternyata salah, rongga itu hanya berisi cinta palsu. Sumi menangis tersedu lirih.
Tiba – tiba telepon genggamnya kembali berbunyi. Sumi takut membaca pengakuan dosa suaminya yang lain lagi. Sudah tergenapi luka hatinya, tak perlu lagi ditambahi. Tapi rasa penasaran membuatnya berani, apa lagi yang akan dikatakan Tarno? Sumi pasrah.
“Sumi, maafkan aku, aku belum sanggup kehilangan kamu.”
Kenapa mendadak dia tak sanggup kehilangannya, bukankah tadi dia mengatakan kalau sudah menemukan yang lain. Sumi tak mau membalas kembali pesan singkat aneh itu.
“Aku sudah memutuskan hubungan dengan wanita itu. Kembali padaku Sumi. Aku akan menantimu.”
Membaca pesan singkat berikutnya dari Tarno tiba – tiba memberi kekuatan yang tak terduga untuk Sumi. Bukan karena Sumi merasa iba atau senang karena ternyata Tarno masih menginginkannya. Hanya saja Sumi merasa dia membutuhkannya. Memang Tarno masih menganggur, uang yang dia gunakan sehari – hari adalah hasil keringat Sumi. Sebagian dari gajinya dia kirimkan kepada Tarno setiap bulannya.
Sumi tersenyum, serasa mendapatkan suntikan imun terhadap suatu penyakit, hatinya mulai tak sakit lagi. Kini Sumi berbalik merasa jijik membayangkan wajah Tarno. Seenaknya mempermainkan perasaan perempuan, kalau ada untungnya saja maka dengan mudahnya dia berpaling. Sumi berpikir bahwa Tarno selama ini membayari kebutuhan sepinya itu mungkin dengan uangnya. Dan kalau saja Sumi menghentikan kiriman uang setiap bulannya kepada Tarno. Perempuan barunya itu juga tak akan segan – segan mendepaknya. Rasa jijik itu mulai berubah bentuk menjadi rasa benci.
Sumi memang hanya lulusan SMP tapi dia tak sebodoh seperti yang disangka orang. Sumi sudah mandiri sejak kecil. Menggunakan akal pikiran sudah lama dia praktekkan ketimbang harus menggunakan perasaan hati. Bagi Sumi kalau bukan dia sendiri yang membantu dirinya, siapa lagi yang bisa dia harapkan?
Perkenalan singkat dengan Tarno yang disambung dengan pernikahan dan diakhiri dengan cerita yang mengenaskan ini membuat Sumi menarik pelajaran. Hidup ibarat pekerjaan rumah tangga, kadang berat kadang ringan, kadang penuh dengan kotoran dan tak sedap dipandang mata. Tapi harus kita sendiri yang mengupayakan agar pekerjaan itu menjadi ringan dan menyenangkan. Caranya dengan kesabaran dan kesetiaan mengatasinya.
Tarno sudah gagal dalam ujian kesetiaan, apalagi yang bisa diharapkan Sumi. Kalau hal ini sudah terjadi sekali bukan berarti dikemudian hari tak terulang lagi. Sumi sudah jera sakit hati.
Sumi mulai mengarang – ngarang pesan singkat yang hendak dia sampaikan kepada Tarno. Sebuah jawaban yang akan membuatnya bahagia. Tak perlu dia memikirkan perasaan orang lain. Juga orang lain tak pernah memikirkan perasaannya. Buat apa berbaik hati lagi dengan Tarno. Harus dihentikan sekarang atau makan hati selamanya. Sumi sudah memutuskan.
“Mas, aku mengerti perasaanmu, aku tidak melarangmu untuk menungguku. Tapi aku yakin apa yang akan kamu lakukan sia – sia. Kembali lah kepada perempuan itu. Aku memang tak pantas untuk menjadi pendampingmu. Maafkan kesalahanku dan kita mulai hidup baru masing - masing.”
Kali ini Sumi tidak ragu sedikitpun menuliskan kata – katanya, bahkan dengan lancar dia menulis. Sumi senang, baru kali ini dia bisa memutuskan sesuatu dengan cepat. Mungkin terasa terburu – buru, tetapi apa yang dilakukan Tarno sudah melewati batas kewajaran. Sumi sudah memaafkan kesalahan Tarno tapi untuk bersatu lagi Sumi tak bisa. Dia bakal menderita seumur hidup apabila membayangkan kesalahan itu.
Sumi teringat ketika tadi malam dia mendengar anak majikannya bernyanyi lagu yang langsung nyangkut ditelinga, Sumi bertanya lagu apa itu? Gadis muda itu mengatakan kalau judulnya I Will Survive yang artinya aku akan bertahan. Sumi mau minta diajarkan lagu itu nanti kalau anak majikannya itu sudah pulang sekolah. Sumi akan menanyikannya setiap hari sampai dia bisa melupakan episode kelam dalam hidupnya ini. Sumi mengelus – elus perutnya yang sedikit membesar. Kelak dia juga akan mengajarkan anaknya lagu itu.
(photo courtesy from Google)
(photo courtesy from Google)

kayaknya lagunya ...bang sms siapa ini bang...
BalasHapus