Minggu, 20 November 2011

Patah Hati

                                                        (photo courtesy of Google)
Kembali ke zaman kuliah dulu, pada suatu hari ketika mengunjungi teman yang tinggal di sebuah asrama mahasiswa. Di kamar yang tidak begitu luas dan harus berbagi dengan mahasiswa lainnya terdapat sebuah lemari tua yang sudah berada disana dari zaman baheula. Baiklah, saya tidak akan berbicara mengenai sejarah lemari tersebut. Tetapi ketika teman membuka lemari, saya melihat sebuah tulisan di bagian dalam pintu, yang bercerita tentang derita yang dirasakan karena putus cinta.

Awalnya saya tertawa geli membaca tulisan tersebut, kalau menggunakan bahasa sekarang, terlalu lebay. Tetapi saya terkejut ketika ada cerita duka dibalik kata - kata tersebut. Katanya, pria yang menuliskan kata – kata yang saya tertawakan itu sudah meninggal dunia, tepatnya bunuh diri. Dia menenggak racun serangga setelah mencurahkan isi hatinya di pintu lemari tua itu. Teman – temannya saat itu sudah berusaha sekuat tenaga berusaha untuk memuntahkan racun yang ada diperutnya. Sayang, racunnya bekerja lebih kuat, dia meninggal ketika dalam perjalanan menuju Rumah Sakit.

Siapa sih yang nggak pernah patah hati, selama manusia masih ada di dunia, penyakit kuno namun tetap eksis sampai saat ini, akan selalu menemani kehidupan. Coba perhatikan beranda di account Facebook anda, pasti tak akan terlewatkan satu haripun kata – kata galau bertebaran di salah satu status teman anda. Semua manusia alergi kalau berhubungan dengan patah hati tapi herannya bersahabat akrab kalau cinta sudah menghampiri.

Kembali lagi ke zaman kuliah (mudah – mudahan yang baca nggak bosan) salah satu sahabat dekat, cewek, pacaran dengan cowok yang dia kenal sejak SMA. Mereka terlihat tak terpisahkan, kemana – mana selalu berdua, tak jarang mereka mengambil mata kulaih yang sama. Memang nggak ada yang abadi di dunia ini, si cowok selingkuh, mencari petualangan yang baru. Awalnya kami para sahabat, sudah mengetahui perselingkuhan itu, hanya saja sungkan menyampaikan berita tak enak ini, karena ternyata temanku ini tahu bahwa cowoknya hanya bersahabat dengan cewek itu. 

Tapi pada akhirnya segala dusta sudah terendus, bau bangkai nggak akan berubah mewangi, temanku mulai melihat gejala – gejala yang aneh dari cowoknya. Tak perlu harus periksa ke dokter, karena juga nggak ada dokter patah hati, Cukup dengan kata hati dan melihat perubahan sifat, akhirnya temanku memutuskan hubungan cintanya. Kita sebagai sahabatnya mendukung seratus persen walau tak jarang menyayangkan. Ajaibnya, temanku ini sedikitpun tak pernah menunjukkan dukanya dihadapan kami, seolah – olah dia sudah biasa putus cinta, padahal mantan pacarnya itu adalah cinta pertamanya dan baru pertamak kali pacaran. 

Karena melihat kejanggalan yang tak biasa, aku bertanya resep patah hatinya tersebut. Dan aku mendapatkan sebuah jawaban yang sangat ringkas, padat namun berisi.  Begini katanya :

“Kata Mama, kalau patah hati itu, menangislah sepuasnya, berdukalah sepuasnya tapi cukup hanya satu malam saja, kalau hari baru sudah menjelang, kita harus punya semangat dan mengkoreksi kegagalan yang kemarin.”

Benar saja, setelah putus cinta, temanku itu mulai mempercantik diri, penampilannya sudah berbeda, giat mempercepat kuliahnya, bahkan dia yang duluan wisuda daripada kami semua. Hebat temanku itu, bahkan sekarang dia sudah jadi pejabat di salah satu departemen pemerintahan, mempunyai suami yang baik dan tiga orang anak yang sehat.

Begitulah seharusnya kalau patah hati, nggak perlu berlarut – larut, nggak penting semua orang tahu. Karena kita tak pernah meramal, musibah yang sedang kita alami tersebut merupakan pintu menuju jalan yang lebih baik. Berduka itu boleh – boleh saja, manusiawi, hanya jangan sampai menghanyutkan kita. Toh hidup cuma satu kali, apalagi harus sampai bunuh diri gara – gara seorang manusia yang belum tentu baik untuk kita. Ingat, hidup terlalu indah untuk kita bersedih sepanjang waktu.

Jadi nanti kalau kita berhadapan dengan yang namanya cinta, merengkuh indahnya cinta, persiapkan hati kita untuk patah hati. Sedia payung sebelum hujan, sediakan resep paling manjur yang cocok dosisnya dengan hati anda, berpikir bijak dan have fun dengan rasa sakit itu. Believe me, It shall past too.

1 komentar: