Kalau Bulan Juni sudah nampang di kalender, biasanya saya akan bersiap – siap untuk hunting kado buat Mamak. Mungkin masih banyak yang heran dengan kata Mamak. Namun bagi yang berasal dari Medan pasti telinganya sudah tidak asing lagi dengan panggilan tersebut. Walaupun berbeda – beda cara memanggilnya tapi tetap satu tujuannya, sebutan untuk Ibunda tersayang.
Mamak berulang tahun setiap tanggal 26 Juni, nggak perlu saya sebutkan umurnya yah, yang pasti sudah tidak muda lagi, tapi Alhamdulillah masih diberi kesehatan yang baik oleh Allah SWT.
Saya adalah tipe orang yang menyukai kejutan, asal yang tidak berlebihan dan membuat jantung berdetak kencang. Kejutan yang manis pastinya. Dan untuk ulang tahun kali ini, saya sudah berniat akan membelikan sebuah tas yang manis.
Seusai kerja, saya pergi ke salah satu mall yang ada di Surabaya, Tunjungan Plaza. Selain tempatnya yang mudah di jangkau dan strategis kalau menggunakan angkutan umum. Tunjungan Plaza atau yang sering disingkat menjadi TP memiliki beberapa toko dengan jangaauan harga yang berbeda – beda, mau murah atau mahal semua tergantung isi dompet. Dan kalau saya, pastinya selalu mengikuti pesan Vetty Verra, yang sedang – sedang saja. Kalau sedang bokek beli yang murah tapi bagus, kalau ada uang beli yang harganya terjangkau tapi berkualitas. Bukankah niat itu lebih penting, saudara – saudara?
Ternyata keberuntungan sedang berbaik hati kepada saya. Setelah keliling dua liling, ada sebuah boutique dengan brand nama buah lagi sale besar – besaran. Mau masuk saja harus antri, bahkan pintu toko juga ditutup untuk menghindari para shopper yang nggak betah antri masuk tanpa rasa malu. Saya mengangguk – angguk, bagus juga manajemennya. Tentu saya ikutan antri, nggak perlu malu sendirian, toh saya sudah tahu benda apa yang akan saya beli, tema malam itu, buy and go.
Akhirnya setelah lima belas menit menunggu, baris antrian saya dipersilahkan masuk. Dan anehnya, yang tadi rapi dan tenang antri mendadak berlarian kayak dikejar setan. Mungkin mereka nggak mau ketinggalan untuk membeli barang – barang bagus dengan harga discount. Saya pun ikut – ikutan berjalan cepat. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya melihat jejeran tas diatas meja tersusun rapi dengan tag harga yang besar – besar terikat pada setiap tas.
Layaknya seorang ahli, saya memperhatikan tas tersebut satu persatu, bagus – bagus ternyata. Saya perhatikan tiap tas yang mencuri hati saya, warna, bentuk, corak dan anehnya tag tersebut tidak mencantumkan harga. Tiba – tiba salah satu Sales Lady mendekati saya dan bertanya,
Sales Lady : Mau mencari apa?
Saya : Mau lihat – lihat dulu Mbak.
Biasanya kalimat singkat tapi pemungkas tersebut mampu membuat Sales Lady dimanapun segera menjauh. Karena saya adalah salah satu orang yang tidak suka kalau berbelanja diikuti sama Sales Lady.
Masih kebingungan mau menentukan tas mana yang akan saya beli, Sales Lady tersebut datang lagi, anehnya kali ini berasama Satpam. Satpam tersebut menanyakan hal yang sama kepada saya,
Satpam : Mau mencari apa Mas?
Bingung dan bengong, takjub kenapa Satpam berubah menjadi Sales Man, sambil membetulkan kaca mata yang mulai turun dari batang hidung, saya pun kembali menjawab,
Saya : Mau lihat – lihat dulu Pak.
Satpam : Kalau mau lihat tas di sana Mas, kalo yang ini tas pengunjung.
OMG, malang tak dapat ditebak, untung pamannya Donal Bebek. Dengan wajah merah padam menahan malu saya mengucapkan kata maaf, saya kira ini tas yang mau dijual. Saya buru – buru berjalan menuju tempat yang ditunjuk Satpam, setelah pura – pura melihat saya langsung cabut dari toko itu.
Untung saja mereka masih percaya kalau saya memang mau membeli tas. Untung saja saya tidak kegatelan membuka tas dan melihat keadaan isinya. Akibat tak mau bertanya, saya tidak menyadari kalau saya memang sendirian di area penitipan tas tersebut, tidak menyadari kalau tag yang ada merupakan nomer penitipan. Tapi salah mereka juga, kenapa tempat penitipan tas tidak ada penjaganya, saya juga tidak melihat sebelumnya ada yang menitipkan tas disana.
Setelah kejadian tersebut, saya mengurungkan niat untuk membeli tas, pulang saja ke rumah, dilanjutkan besok. Untung saya orang Indonesia yang masih merasa beruntung karena tidak dibawa ke kantor satpam dan diinterogasi. Nggak kebayang kalau beredar foto saya disebuah harian kriminal dengan judul, pria kantoran maling tas. Ah, memang malu bertanya membuat kita jadi malu - maluin.
(photo courtesy from Google)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar