Selasa, 15 November 2011

Pocong Dan Kuntilini Mangga Dua

Saat itu jam telah bergerak menuju angka dua belas, Mangga Dua yang biasanya ramai dipadati oleh manusia dengan segala aktivitasnya di siang hari terasa sangat sepi ketika malam mulai larut.

Tampak dari kejauhan seorang satpam berjalan dan berkeliling, melakukan pengecekan rutin seperti biasanya. Tugas yang kelihatan sepele tapi sangat besar tanggung jawabnya. Tiba - tiba sang satpam merasa bulu kuduknya merinding ketika dia mendengar suara yang aneh dari arah belakang. Seperti ada seseorang yang sedang menyeret benda berat di lantai, padahal dia hanya sendiri di tempat itu. Kemudian dia juga mendengar suara kain yang sedang dikibaskan kencang, keringatnya mulai bercucuran, tangannya dingin dan nafasnya tersengal - sengal. Dia mulai berhalusinasi mencium bau kembang yang sangat tajam. Wajahnya mulai pucat, bahkan dia lupa untuk membaca doa - doa untuk memberanikan diri. Sesaat satpam tersebut ingin berlari menuju Pos Satpam yang berada di lantai bawah. Hanya saja kakinya sulit untuk digerakkan.

Dan tiba - tiba ada yang mendekatinya dan menegurnya dengan ramah,

"Hai Pak Satpam"

Satpam yang kelihatan gagah tersebut sukses pingsan tergeletak di lantai. Dan dimulailah percakapan itu.

Pocong (P) : Kuntilini, sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah sok ramah deh sama para satpam disini (Pocong agak sedikit cemberut)

Kuntilini (K) : Aqyu kan bermaksud ramah nek (mencoba bergaya centil untuk membuat suasana ceria kembali)

P : Ramah di dunia kita dengan dunia manusia kan beda kale, ini udah kali ketiga belas loh kamu melakukan hal yang sama.

K : Dasar manajemen Mangga Dua aja yang bego, milih satpam koq ya bukan dari kalangan paranormal atau dukun (Kuntilini membetulkan make up-nya yang mulai luntur) Kalo dari kalangan dukun, mereka kan nggak akan takut dengan kita, malah kita dianggap sahabat (Kuntilini mulai meletakan bedak sekilo ke wajahnya, agar style ghotic-nya tetap terlihat jelas)

P : Sudah ah, nah, katanya kamu mau lihat baju terbaru di Mangga Dua. Baju Manohara, lagi trend tuh katanya (promosi Pocong dengan semangat empat lima)

K : Malas ah, mau cari yang lain aja (Kuntilini agak sedikit sirik)

P : Kenapa jeng? (Pocong terheran - heran mendengar nada sirik Kuntilini)

K : Aqyu itu agak sebel sama manohara (sembari memakai eye shadow dari arang)

P : Loh koq bisa? Emangnya kamu kenal? Pacar kamu si Genderuwo pernah selingkuh sama Manohara? (Pocong tambah bingung dan mulai mebetulkan tali pocongnya yang mulai kendur)

K : Bukan sih...hihihihihihi...soalnya aqyu pengen main di sinetron Manohara yang dibintangi Dude itu (Kuntilini memasang wajah mengharap)

P : Nama kamu kan bukan Manohara?

K : So what gitu loh, nama kita juga sering dipake para produser dan kita nggak pernah di casting jadi pemeran utama (Kuntilini semakin sebel dan mulai menajamkan kukunya di lantai seperti kucing)

P : Ya juga ya, seharusnya yang main di Pocong Jalan Blora kemaren itu aku (Pocong mulai terprovokasi)

K : See, bahkan kita nggak dapat royalti dari penggunaan nama kita, makanya aqyu itu malas dan sebal kalo lihat film - film Indonesia yang berseliweran menggunakan nama kita tapi kita selalu jadi pemeran antagonis di setiap filmnya, heran deh (Kuntilini membetulkan sasak rambutnya yang setinggi pohon cemara)

P : Ya sudah ah, mulai besok - besok, kalo ada film yang menggunakan nama kita, tapi kita nggak diajak turut serta atau kita nggak dapat royalti. Kita melapor aja ke Komnas HAH (Pocong mencoba bijak)

K : Apa itu Komnas HAH?

P : Komisi Nasional Hak Asasi Hantu, hihihihihihihi....

K : Nek, itu kan gaya ketawa aqyu, jangan ditiru donk. Kalo kamu kan nggak bisa ketawa, cuma mingkem doank dengan ekspresi dingin, hihihihihihihi......

P : Dingin, emangnya kulkas?

K : Hihihihihihihi. Ngomong - ngomong, kayaknya kita ada kelupaan sesuatu deh Nek.

P : Ya ampun, ya, kita koq ninggalin Suster Ngesot, pasti dia masih dilantai satu.

K : Heran deh, koq masih ada yang takut ya kalo ketemu Suster ngesot, pake lari ketakutan lagi, padahal dia ngesot aja susah, hihihihihihihihihihi (Kuntilini mulai ceria lagi) Kita jemput yuk nek.

P : Jelangkung kali pake dijemput.

P & K : Hihihihihihihihihihihihi.....


Dan Kuntilini beriringan dengan Pocong menjemput suster ngesot yang kecepatan ngesotnya, satu tarikan permenit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar